Barcode Project

Barengan Corat-Coret Ide

Barcode Projects

  • Home
  • Penulis
Foto: netsanity.net
Awalnya aku sedikit bingung dan kurang paham dengan tema kali ini. Generasi menunduk. Aku berpikir, “Oh generasi menunduk maksudnya, mereka yang ketika lewat di depan orang lain menunduk menunjukkan sopan santunnya”. Aku masih ragu dengan maksud dari topik kali ini. Kemudian aku mencoba mengkonfirmasi dengan si empunya ide. Dan ternyata adalah mereka yang selalu menunduk sibuk dengan ponsel pribadinya.

Yups, di zaman sekarang ponsel seakan sudah menjadi benda wajib yang dibawa kemanapun. Tentu banyak hal yang bisa kita ambil manfaatnya dari fungsi si ponsel yang semakin kesini semakin pintar, seperti julukannya smartphone. Usia dini pun sekarang mulai familiar bahkan bisa menggunakan ponsel, sekedar untuk melihat video baby shark. Tapi tak bisa dipungkiri, semakin banyak fitur yang ada di ponsel dan lain sebagainya membuat penggunanya menjadi seperti kecanduan.

Aku pun mungkin juga menjadi addicted to my phone. Bangun tidur cek handphone, ketika jalan kaki menggunakan handphone, ketika sedang duduk dengan keluarga atau teman berkutat dengan ponsel masing-masing dan lainnya. Mungkin ada baiknya untuk saling mengingatkan saja untuk bijaksana ketika menggunakan ponsel. Bukan menggurui, hanya saja terkadang aku bingung dengan mereka yang ketika mengendarai motor atau mobil mereka dengan santai memainkan ponselnya. Sebegitu pentingkah chat atau telpon itu sampai harus dibalas ketika berkendara? Untuk yang satu itu aku lumayan kesal jika melihatnya.

Foto: Pinterest
Ketika berjalan kaki, terkadang aku juga menunduk menatap layar ponselku. Terlihat angkuh tanpa melihat sekitar. Ketika sedang berkumpul dengan keluarga atau teman, tapi perhatian tetap pada layar ponsel. Terkadang sampai tidak mendengar panggilan dari seseorang. Entahlah, zaman sudah berubah. Aku hanya ingin menyampaikan ini dan bukan bermaksud sok atau bagaimana. Aku pun terkadang melakukan beberapa hal yang membuatku menunduk itu, tapi untuk berkendara sambil menggunakan ponsel aku tidak melakukannya, aku lebih memilih berhenti dan menepi. It’s big NO!


Foto: Pinterest
Pernah ngalamin ini?
Be wise using your smartphone. Be smart using your smartphone. Lihat situasinya, jangan menjadikan hal yang sering kamu lihat sebagai ukuran kewajaran, kesantunan, dan kesopanan. Terkadang kesakralan atau kekhidmatan suatu acara bisa berkurang jika kamu tidak bisa membedakan situasi yang tepat untuk kamu menggunakan ponsel. Lihat juga, ketika kamu terlalu banyak menunduk asyik dengan ponselmu ketika kamu sedang dengan orang lain atau orang-orang terdekat, adakah sesuatu yang hilang? Moment, komunikasi, atau yang lainnya. 

Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
foto: istimewa. 

Generasi menunduk. Sudah nggak asing lagi di telinga kita. Ungkapan tersebut muncul sekitar tahun 2012 di mana ada sebuah film bertajuk Republik Twitter yang dimainkan oleh Laura Basuki.

Generasi menunduk ini pun menjadi perbincangan hangat karena begitu familiar dengan kehidupan kita. Generasi menunduk ini ungkapan yang disematkan pada orang yang terbiasa menggunakan gawai seperti smartphone, tablet, dan lain-lain. Posisi orang menggunakan gawai pastilah menunduk, oleh sebab itu disebut generasi menunduk.

Posisi memainkan gawai tersebut membuat banyak orang lupa segalanya. Apalagi kalau sudah fokus pada si handphone pintar, sekeliling seolah diabaikan. Keadaan tersebut sering banget saya temui dan saya alami. Contohnya saat bertemu dengan teman, kita akan lebih sibuk dengan gawai masing-masing. Nggak cuma sekali, saat mampir ke rumah teman pun kita akan lebih dulu menghubunginya lewat gawai dibanding mengetuk pintu rumahnya atau membunyikan bel.

"Kadang kala, gawai menjauhkan yang dekat sekaligus menjauhkan yang dekat."

Namun generasi menunduk atau kids jaman now  ini punya sisi positifnya juga kok lewat gawai. Di sisi lain, banyak yang memulai bisnisnya lewat gawai. Hanya modal smartphone, mereka bisa meraup keuntungan yang banyak. Usia terbilang muda, mereka bisa membiayai hidupnya sendiri atau membantu sesama. Keren nggak? Nggak semua menunduk itu identik dengan hal-hal buruk. Contohnya saat tema ini tercetus, teman sekaligus partner barcode projects saya--Winda menanyakan hal tentang tema generasi menunduk.

"Vin generasi menunduk maksudnya gimana?," tanyanya. 
Lalu saya pun menjelaskan, "ya kayak kita. Mainan hape terus sampe ada anggapan generasi menunduk."
Dengan polosnya Winda menimpali, "Ohh itu maksudnya. Okaylah. Kirain menunduk dalam hal positif."

Dari obrolan singkat di atas, kita dapat mengetahui bahwa dua hal ini bisa dilihat dengan sudut pandang yang berbeda. Kamu bisa melihat 'generasi menunduk' ini sebagai dua hal yang berbeda, positif atau negatif.

Regards,
V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Foto: Pinterest
 Hi, Barcodes! How's your day? Was it tiring or fun? I hope you had a good. So, today's theme is love, about ciri-ciri cowok yang ditaksir. This topic is kind of hard for me. Hhahaha Because I can't relate to it. Actually, Vindi already made several questions related to the topic, but I don't think I can answer all the questions. Hope you enjoy my post, and happy Tuesday all!
😊😊😊😊😊😊

Tania meletakkan tasnnya diatas meja dan segera mendaratkan pantatnya di sofa. Dia memandangi sahabatnya yang tengah melipat wajahnya seperti koran yang super lecek.

"Lo tuh kenapa sih Nay? Pulang dari rumah oma kok suntuk gitu, lecek lagi tuh muka."tanya Tania meranjak untuk mengambil minum.

"Ya lo pasti tahulah kenapa gue suntuk."jawab singkat Kanaya sembari membalas pesan di ponselnya.

Tania tertawa. "Makanya cari pacar sono! Hahaha"

"Lo kira cari pacar kayak milihin tomat di pasar apa supermarket? Ya gue sih nggak masalah belum punya pacar, cuma ya gimana ya.. Tiap kali ke rumah oma dan semua cucunya kumpul, pasti pada bawa pasangannya."Kanaya mulai menerocos panjang lebar. "Lo tahu, Satria aja yang masih SMA udah bawa pacarnya."

"Wuih, kalah nih ceritanya sama satria yang masih unyu-unyu itu. Lo tuh ya, umur udah 25 masih selo kayak gini."

Kanaya yang malas mendengar ceramah panjang sahabatnya itu memilih beranjak ke kamarnya meninggalkan Tania sendiri di ruang tamu. Usia Kanaya yang sudah 25 tahun dan kesendiriannya selalu mendapat pertanyaan-pertanyaan tentang pacar, nikah, jodoh dan lainnya. Kanaya yang sudah bekerja merasa itu bukanlah prioritas utamanya saat ini. Tetapi perasaan sepi itu muncul setiap kali dia mengunjungi rumah omanya dan semua cucunya datang dengan pasangan masing-masing.

Tania segera menyusul sahabatnya sejak SMA itu ke kamar. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala ketika melihat Kanaya mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya meskipun di rumah.

"Nay, kalo lo ngerasa iri lihat mereka bawa pasangan ke oma, ya sekarang lo juga usaha dong buat cari pasangan menua bareng lo itu. Jangan jadi picky dan idealis deh."

"Siapa juga yang picky, siapa juga yang idealis."sahut Kanaya malas.

"Kalo bukan picky dan idealis terus apa? Lo itu terlalu pemilih tahu nggak."protes Tania.

Kanaya yang tidak terima berbalik menghadap Tania yang sedang menyeruput es sirup. "Setiap orang kan punya ideal man-nya sendiri. Lagian gue juga nggak muluk-muluk kok. Gue nggak minta Song Jong Ki yang jadi pacar gue ini."

"Nah terus lo mau cowok yang kayak gimana?"

Foto: Pinterest
Kanaya berpikir sejenak. "Jelas seiman dong dan yang lebih bagus imannya dari gue, yang lebih pinter dari gue, nggak ngerokok, lebih dewasa dari gue, good manner-nya, gue-nya nyaman, kalo soal fisik kalo bisa yang lebih tinggi dari gue, good look, terus ..."

"Terus yang kayak Dimas Beck gitu? Itu yang lo bilang nggak picky?"

"Itu wajar kali, lo juga mesti lihat bibitbebetbobot. Gue mau yang kayak Nichkhun apa Taecyeon aja Tan."

"Ngelunjak ya minta yang kayak Nichkhun sama Taecyeon. Lo beneran nggak lagi deket sama siapa gitu? Naksir siapa gitu?"

"Enggak ada."

"Masak sih, yang lo taksir gitu? Kalo ada kan gue bisa bantuin nyomblangin."

"Enggak ada Tania."

"Dimas?"

"No."

"Terserah deh, lama-lama lo gue jodohin juga ini."

Kanaya tidak membalas perkataan Tania dan mulai menggunakan earphone-nya. Bukan maksud hati Kanaya untuk tidak mencari pacar atau sekedar membuka pertemanan. Hanya saja, Kanaya seakan sudah lupa kapan terakhir kali dia jatuh cinta, dan seperti apa itu cinta. Benaknya terlalu penuh dengan novel-novel cinta dan segala drama dan film tentang percintaan. Seakan semua itu hanya akan jadi khayalan yang sulit untuk digapai dan hanya sebuah fairy tale.
******
Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Foto: Pinterest

Jam tangan Abel menunjukkan tepat pukul 17.00. Dia segera mematikan mesin mobilnya dan turun. Abel berjalan menaiki tangga dan membuka pintu rumahnya.

“Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam mommy..” Terdengar suara bunda menjawab salam abel dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.

Senyum Abel segera merekah tatkala melihat Abil berlari kecil dari belakang bunda kearah Abel sambil mengulurkan tangannya meminta untuk digendong. Melihat Abil tertawa kecil ketika Abel menciumi perutnya membuat rasa lelah seharian di kantor hilang. Abel mendudukkan Abil di sofa kecil khusus untuk Abil, sambil menunggu Abel membersihkan dirinya.

Abil sedang sibuk menyusuk balok-balok dan mobil-mobilan ketika Abel keluar dari kamar. Bunda datang menghampiri keduanya sambil membawa sepiring buah mangga.

“Abil mau maem mangga sayang?”tanya bunda lembut.

Mata Abil berbinar ketika dia melihat piring penuh dengan buah kesukaannya, kemudian menganggukkan kepala menandakan kalo dia juga mau.

“Mangganya buat mommy aja oma.”kata Abel pada bundanya untuk menggoda Abil.
“No no no, mangga Abil itu.”jawab Abil sambil berdiri kemudian menghampiri piring mangga.

Abel terus saja menggoda Abil dengan meminta semua potongan mangganya. Tapi Abil juga cerdik, dia mengambil piring yang biasa dia gunakan untuk makan. Kemudia dia mengambil beberapa potong mangga dan diberikan pada Abel.

Dengan hati-hati Abil memberikan piringnya sambil berkata, “ini mangganya mommy, yang itu punya Abil.”

Abel tersenyum menerima piring dari Abil. “Terima kasih gantengnya mommy.”ucap Abel sambil mengacak-acak rambut Abil.

Bunda yang melihat interaksi putri dan cucunya itu terlihat terharu. “Perjalanan kamu mendidik Abil masih panjang sayang. Bunda bangga sama kamu di usia kamu sekarang, kamu memilih Abil untuk kamu besarkan.”

“Abil itu jadi awal hidup Abel. Matanya selalu menarikku untuk terus menyayanginya bun. Abel juga berterima kasih karena Abil ada di hidup Abel sekarang. Dia obat untuk segala hal buat Abel.”kata Abel sambil melihat Abil yang mulai berjoget ketika mendengar lagu Baby Shark.
******

Siang ini Abel sudah berjanji dengan Abil untuk pergi berdua saja ke salah satu mall di Jogja. Setelah berhasil mendapatkan parker, Abel dan Abil segera berjalan menuju escalator untuk ke lantai 3. Begitu sampai ditempat yang sudah Abil inginkan sejak kemarin sore, Abil langsung berlari kecil tidak sabar untuk bermain. Matanya berbinar melihat kolam penuh dengan bola.

Abel segera menyusul Abil setelah membayar pada petugas yang berjaga. Saat sebelum masuk area bermain, Abil melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu yang tersedia. Salah satu orang tua yang juga sedang menemani anaknya bermain memuji sikap Abil.

“Pinter banget mbak putranya, sudah tahu harus ditaruh mana sepatunya.”celetuk salah satu ibu dengan baju biru muda.
“Iya, mbaknya berhasil mendidik biar anaknya disiplin.”sahut ibu-ibu yang duduk disampingnya.

Abel hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Abel terus memerhatikan dan mengawasi Abil yang sedang bermain prosotan. Dia kembali pada ingatannya tiga tahun lalu.

“Nay, bayi kamu lucu banget sih. Matanya kayak bersinar ceria.”ucap Abel ketika ia datang ke salah satu rumah bersalin.
Nayla tersenyum. “Iya, dia selalu tersenyum.”
“Boleh aku gendong?”tanya Abel tanpa melepas tatapannya pada bayi Nayla.
“Jelas boleh.”
Dengan antusias Abel menggendong bayi Nayla. Dari tempat tidurnya, Nayla terus menatap lurus pada Abel.
“Bel, aku boleh titip Abil sama kamu?”
Mendengar perkataan sahabatnya itu membuat Abel segera menoleh dan menghampiri Nayla. “Maksud kamu apa sih?”
“Aku nggak punya siapa-siapa lagi, mas Aga udah pergi lebih dulu. Dan entahlah, aku rasa aku nggak bisa jaga Abil, Bel.”
“Hussh, ngawur kamu. Kamu kan udah bilang sama mas Aga mau jaga Abil bareng aku. Nggak usah ngawur deh ngomongnya.”kataku mulai meneteskan air mata.
Tangan kurus Nayla terulur, menghapus air mata yang tidak mau berhenti membasahi pipi Abel. “Abel, janji sama aku, kalo ada apa-apa sama aku, aku minta tolong jaga Abil buat aku dan mas Aga ya? Aku mau kamu jadi mama untuk dia.”
Abel terus menggeleng tidak setuju dengan perkataan Nayla. Dia yakin sahabatnya itu akan sembuh dan bisa menjaga Abil bersamanya. Dia berusaha menguatkan sahabatnya itu.

Dua hari setelah Abel menemani Nayla dan Abil di rumah sakit, Abel mendapat kabar yang tidak menyenangkan. Nayla benar-benar pergi meninggalkannya untuk selamanya. Bukan karena dia harus menjaga Abil, tetapi persahabatan sejak sekolah dasar hingga kini membuat Abel dan Nayla seperti anak kembar yang tak terpisahkan. Abel tak henti-hentinya meneteskan air mata meski Nayla sudah di tempat peristirahatan terakhirnya. Sejak mendengar kabar Nayla memburuk sampai dia menghembuskan napas dan dikebumikan, Abel tak pernah melepas Abil. Dia terus menggendong bayi laki-laki itu penuh tatapan sayang.

Abel sudah memutuskan untuk menepati janjinya pada mas Aga dan Nayla untuk menjaga Abil. Bukan hanya karena janji itu, tetapi sejak Abil lahir dan mata kedua bertemu, Abel sudah sangat sayang pada Abil. Seakan mata Abil bisa menarik semua perhatian Abel dari dunianya. Tentu keputusan Abel memilih Abil membuat Abel melepas beberapa hal, bahkan kekasihnya. Dino tidak menyetujui keputusan Abel untuk hidup dengan Abil, dan dengan ikhlas Abel melepas Dino.

Tak hanya itu, waktu Abel pun hanya tercurah untuk Abil, keluarganya, dan pekerjaannya. Meski begitu, Abel selalu bersyukur memiliki Abil. Seakan Abil adalah kunci keberhasilannya. Karir Abel meningkat walau tidak dengan percintaannya.

“Mommy kok nangis?”tanya Abil menghampiri Abel.

Abel segera menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya. “Mommy nangis karena mommy bahagia lihat Abil ketawa senang bisa main disini.”jawab Abel.

Abil kemudian duduk dipangkuan Abel sambil berusaha memeluk mommynya agar tidak menangis. “Mommy jangan nangis, mommy senyum aja.”

Sambil membalas pelukan Abil. “iya ganteng, makasih ya sayang. Mommy sayang banget sama Abil.”

“Abil juga sayang mommy.”kata Abil mempererat pelukannya.

Seharian menghabiskan waktu di mall untuk bermain, Abil sudah tidur saat sampai di rumah. Setelah meletakkan Abil di tempat tidurnya, Abel menghampiri kedua orang tuanya. Setiap Abel mengingat Nayla, dia selalu mengingat seberapa sayang dan sangat mendukungnya orang tua Abel pada keputusannya. Dia selalu berterima kasih karena bunda dan ayahnya selalu berada disampingnya.

Abel duduk di antara bunda dan ayahnya. “Makasih ya bun, yah, udah support dan selalu ada untuk Abel.”

Keduanya tersenyum mengangguk dan memeluk Abel.

“Pasti kamu keinget sama Nayla ya?”tanya bunda. “Nayla dan Aga pasti bahagia lihat kamu sayang banget sama Abil. Lihat kamu selalu berusaha untuk menjadi yang pertama untuk Abil. Bunda juga bahagia lihat kamu semakin bahagia setelah ada Abil di hidup kamu.”

Setelah percakapan singkat, Abel kembali ke kamarnya. Sebelum tidur, Abel mengambil buku agendanya. Dia kembali menatap Abil yang tengah pulas tidur. Senyum terukir dibibir Abel setiap saat ia melihat malaikat kecilnya sedang tertidur pulas.

Dear Nayla dan mas Aga

Terima kasih sudah menitipkan Abil sama aku. Kalian bisa tenang dan bahagia di sana. Abila man sama aku pokoknya. Kalian nggak perlu khawatir, Abil bukan beban atau penghalang bagiku. Abil itu anugerah terindah yang pernah ada dalam hidupku.
I love you, Nayla, mas Aga.
I’ll always love Abil till I die.

Abel

Regards,

F




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Foto : Tumblr




"Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki"
Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu

Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Sifatmu nan s'lalu
Redahkan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Diatas lirik lengkap dari salah satu lagu hits dari Sheila on 7 yang berkenaan degan tema hari ini. Sebenarnya lagi ga punya ide buat nulis cerita tentang lagu itu seh,tapi pada akhirnya cuman bisa berpendapat sedikit tentang lagu “Anugerah terindah yang pernah kumiliki” ini. Karena sebenarnya kalau menurutku lagu ini cocok juga buat disampaikan ke seseorang paling spesial dalam hidupmu yang terkadang keberadaannya kamu anggap biasa-biasa saja, tapi ketika seseorang itu tidak ada di sampingmu maka hal-hal yang kamu anggap biasa tadi menjadi begitu berharga. Nah, siapa seh seseorang yang dimaksud itu? Kalau bagiku salah satu dan yang paling pertama aku anggap sebagai “Anugerah terindah yang pernah kumiliki” ya ibu, kenapa? Karena apa seh jadinya seorang anak tanpa ibunya? Ga akan ada apa-apanya (hampa). Padahal hampir separuh hidup kita ga bisa jauh-jauh dari ibu, contohnya aja dari mulai bangun tidur sampai mau tidur lagi, dari mulai hal-hal kecil kebutuhan harian sampai hal-hal besar kebutuhan hidup kita pun selalu butuh yang namanya peran dari seorang ibu. Jadi selama ibu ada , semua persoalan seorang anak insyaallah dapat dipastikan selalu bergantung pada peran, dukungan, dan yang paling pasti doa serta ridho dari seorang ibu. Apalagi di dalam ajaran islam, seorang ibu disebut sebanyak 3x sebagai orang yang dianggap paling pertama yang harus kita hormati kan. Selain itu ibu bagiku juga bukan hanya sosok orangtua yang membimbing dan mengasihi dengan tulus saja loh, tapi beliau dapat menjadi sosok yang bisa dijadikan teman curhat, guru, perawat atau dokter , manajer keuangan rumah tangga dan masih banyak lagi. So, ibu bakalan selalu jadi moodbooster dan jelas menjadi anugerah terindah yang pernah kumiliki.
Sekian.



Dengan rendah hati,

A

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Laki-laki, makhluk yang selalu dikenal lebih mengedepankan akal daripada hati. Mereka sering dibilang selalu menggunakan logika daripada perasaannya. Beberapa diantara mereka bisa menempatkan kapan menggunakan logika dan kapan menggunakan hati. Mereka sering dihubungkan dengan kuat dan kasar. Tapi tentu, tidak semua dari mereka memiliki sifat atau melakukan hal-hal yang selalu diidentikkan dengan laki-laki.

Foto: Pinterest

Tema barcode projects kali ini tentang cowok/laki-laki/men/cah lanang. Tentang hal-hal yang tidak aku suka dari mereka. Mungkin empat hal yang aku benci ini sudah umum, hanya saja bagiku itu hal yang nyata sering kali atau pernah kita (aku) hadapi. 

Empat hal yang aku benci dari mereka, para cowok itu:

1. Suka ngomongin tentang fisik
Sering banget denger obrolan cowok-cowok itu nggak jauh dari ngomongin fisik perempuan. Dan aku teramat benci ketika mendengarnya. Seakan fisik yang kata mereka cantik la la la itu menunjukkan sifat dan pikiran si cewek juga cantik dan seakan sempurna. Tapi kadang juga bingung sama cewek yang malah seneng kalo dia diomongin sama anak-anak cowok tentang fisiknya. Hargailah orang lain, dengan tidak membicarakan fisik orang lain, baik cewek ataupun cowok.

2. Suka bikin polusi udara
Yups, polusi apa lagi kalo bukan dari asep rokok ataupun vape yang mereka hisap. Walaupun ada sih cewek yang juga ngerokok atau ngevape, cuma kayaknya gak sesering anak-anak cowok itu. Bukan cuma karena nggak sehat buat badan mereka, tapi juga kesehatan perkokok pasif. Asep rokok maupun vape itu lebih banyak dihirup sama perokok pasif, Dan yang paling nyebelin adalah mereka yang sengaja ngarahin itu asep ke perokok pasif dan malah diketawain. Buat aku, ngerokok maupun ngevape itu nggak banget dan ngeganggu banget kalo kita lagi di tempat makan. Walaupun asep vape baunya macem-macem apa wangi kek, tapi asepnya lebih tebel dan ganggu. Semakin benci karena ketika ada asep rokok maupun vape disekitar aku, akunya jadi mual dan kadang sampe pusing gitu. Jadi tolong dongs be aware juga sama sekitar kalau mau ngerokok ya. 

3. Susah dibaca pikirannya
Poin ini, entahlah. Ketika berinteraksi dengan laki-laki aku kadang nggak bisa ngebaca pikirannya. Bukan berarti aku bisa baca pikiran cewek. Cuma entah, kadang aku tidak bisa membaca ekspresi, pikiran, maupun mata mereka. Terkadang aku bisa membacanya, tetapi lebih sering sulit untuk membacanya atau mengertinya.

4. Kalo ngomong suka asal 'njeplak' aja
Dan poin terakhir ini aku pernah bener-bener yang ketemu sama cowok yang aku bilang antara terlalu jujur, asal jeplak, gak peka, atau gak punya hati. Dia dengan ngomong gitu langsung tanpa disaring ke orangnya apalagi ke cewek dan entah kenapa buat aku terdengar kasar. Dan itu bener-bener nyinggung banget. Apa lagi kadang mereka nggak ngerasa lagi kalo omongannya itu nyinggung atau nggak disaring.

Itu sih beberapa yang aku nggak suka dari cowok. Disini tapi aku nggak menyamaratakan semua laki-laki kayak gitu ya. Cuma beberapa itu dari apa yang pernah aku temui dan alami sih. 😊

Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Mengenai Saya

Barcode Projects
Lihat profil lengkapku

About me

Barcode Projects adalah sebuah proyek menulis yang diinisiasi oleh dua perempuan sok struggle dan tukang baper. Perempuan yang dimaksud adalah Ferizka Winda dan Vindiasari Putri.

Barcode Projects sendiri memiliki kepanjangan 'Barengan corat-coret'. Barcode Projects ini dijadikan wadah menulis dan berbagi cerita.

Labels

  • 1
  • 10
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • A
  • Barcodeprojects
  • Bebas
  • Cinta
  • Cowok
  • Evaluasi
  • F
  • Family
  • First Experience
  • Friend
  • Lagu
  • Review
  • Society
  • V

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2017 (95)
    • ▼  November (1)
      • #69, 70, 71, 72, 73, 74,75, 76, 77, 78
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (14)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (10)
    • ►  Maret (15)
    • ►  Februari (9)

Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates