Barcode Project

Barengan Corat-Coret Ide

Barcode Projects

  • Home
  • Penulis
Foto: netsanity.net
Awalnya aku sedikit bingung dan kurang paham dengan tema kali ini. Generasi menunduk. Aku berpikir, “Oh generasi menunduk maksudnya, mereka yang ketika lewat di depan orang lain menunduk menunjukkan sopan santunnya”. Aku masih ragu dengan maksud dari topik kali ini. Kemudian aku mencoba mengkonfirmasi dengan si empunya ide. Dan ternyata adalah mereka yang selalu menunduk sibuk dengan ponsel pribadinya.

Yups, di zaman sekarang ponsel seakan sudah menjadi benda wajib yang dibawa kemanapun. Tentu banyak hal yang bisa kita ambil manfaatnya dari fungsi si ponsel yang semakin kesini semakin pintar, seperti julukannya smartphone. Usia dini pun sekarang mulai familiar bahkan bisa menggunakan ponsel, sekedar untuk melihat video baby shark. Tapi tak bisa dipungkiri, semakin banyak fitur yang ada di ponsel dan lain sebagainya membuat penggunanya menjadi seperti kecanduan.

Aku pun mungkin juga menjadi addicted to my phone. Bangun tidur cek handphone, ketika jalan kaki menggunakan handphone, ketika sedang duduk dengan keluarga atau teman berkutat dengan ponsel masing-masing dan lainnya. Mungkin ada baiknya untuk saling mengingatkan saja untuk bijaksana ketika menggunakan ponsel. Bukan menggurui, hanya saja terkadang aku bingung dengan mereka yang ketika mengendarai motor atau mobil mereka dengan santai memainkan ponselnya. Sebegitu pentingkah chat atau telpon itu sampai harus dibalas ketika berkendara? Untuk yang satu itu aku lumayan kesal jika melihatnya.

Foto: Pinterest
Ketika berjalan kaki, terkadang aku juga menunduk menatap layar ponselku. Terlihat angkuh tanpa melihat sekitar. Ketika sedang berkumpul dengan keluarga atau teman, tapi perhatian tetap pada layar ponsel. Terkadang sampai tidak mendengar panggilan dari seseorang. Entahlah, zaman sudah berubah. Aku hanya ingin menyampaikan ini dan bukan bermaksud sok atau bagaimana. Aku pun terkadang melakukan beberapa hal yang membuatku menunduk itu, tapi untuk berkendara sambil menggunakan ponsel aku tidak melakukannya, aku lebih memilih berhenti dan menepi. It’s big NO!


Foto: Pinterest
Pernah ngalamin ini?
Be wise using your smartphone. Be smart using your smartphone. Lihat situasinya, jangan menjadikan hal yang sering kamu lihat sebagai ukuran kewajaran, kesantunan, dan kesopanan. Terkadang kesakralan atau kekhidmatan suatu acara bisa berkurang jika kamu tidak bisa membedakan situasi yang tepat untuk kamu menggunakan ponsel. Lihat juga, ketika kamu terlalu banyak menunduk asyik dengan ponselmu ketika kamu sedang dengan orang lain atau orang-orang terdekat, adakah sesuatu yang hilang? Moment, komunikasi, atau yang lainnya. 

Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
foto: istimewa. 

Generasi menunduk. Sudah nggak asing lagi di telinga kita. Ungkapan tersebut muncul sekitar tahun 2012 di mana ada sebuah film bertajuk Republik Twitter yang dimainkan oleh Laura Basuki.

Generasi menunduk ini pun menjadi perbincangan hangat karena begitu familiar dengan kehidupan kita. Generasi menunduk ini ungkapan yang disematkan pada orang yang terbiasa menggunakan gawai seperti smartphone, tablet, dan lain-lain. Posisi orang menggunakan gawai pastilah menunduk, oleh sebab itu disebut generasi menunduk.

Posisi memainkan gawai tersebut membuat banyak orang lupa segalanya. Apalagi kalau sudah fokus pada si handphone pintar, sekeliling seolah diabaikan. Keadaan tersebut sering banget saya temui dan saya alami. Contohnya saat bertemu dengan teman, kita akan lebih sibuk dengan gawai masing-masing. Nggak cuma sekali, saat mampir ke rumah teman pun kita akan lebih dulu menghubunginya lewat gawai dibanding mengetuk pintu rumahnya atau membunyikan bel.

"Kadang kala, gawai menjauhkan yang dekat sekaligus menjauhkan yang dekat."

Namun generasi menunduk atau kids jaman now  ini punya sisi positifnya juga kok lewat gawai. Di sisi lain, banyak yang memulai bisnisnya lewat gawai. Hanya modal smartphone, mereka bisa meraup keuntungan yang banyak. Usia terbilang muda, mereka bisa membiayai hidupnya sendiri atau membantu sesama. Keren nggak? Nggak semua menunduk itu identik dengan hal-hal buruk. Contohnya saat tema ini tercetus, teman sekaligus partner barcode projects saya--Winda menanyakan hal tentang tema generasi menunduk.

"Vin generasi menunduk maksudnya gimana?," tanyanya. 
Lalu saya pun menjelaskan, "ya kayak kita. Mainan hape terus sampe ada anggapan generasi menunduk."
Dengan polosnya Winda menimpali, "Ohh itu maksudnya. Okaylah. Kirain menunduk dalam hal positif."

Dari obrolan singkat di atas, kita dapat mengetahui bahwa dua hal ini bisa dilihat dengan sudut pandang yang berbeda. Kamu bisa melihat 'generasi menunduk' ini sebagai dua hal yang berbeda, positif atau negatif.

Regards,
V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



There is empty post for #56. We will get punishment for this.
See you!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebelum aku ngebahas tentang K-pop, aku mau rekomendasiin kalian band asal Korea yang cukup menarik perhatianku. Selain karena membernya, aku juga suka lagu-lagunya. Liriknya suka ngena gitu. Welcome to DAY6!!!! 

Noted: Kalian bisa cek juga yang judulnya Congratulation.

Menjadi penggemar Korean Pop atau yang sering disebut K-pop tentu memunculkan beberapa pro dan kontra. Kali ini barcode sedang membahas mengenai society yang mana berkaitan dengan demam K-pop yang sedang ramai-ramainya. Sebelumnya disini aku akan menempatkan diri sebagai penggemar K-pop (drama, variety show, dan group/boy/girl band), tetapi bukan jadi fans yang benar-benar fanatik.

Masuknya K-pop di Indonesia jelas mempengaruhi masyarakat, khususnya generasi muda. Kalau ditanya, apa sih yang menarik dari K-pop? Paras tampan dan cantik jelita, gaya fashion, skill bernyanyi dan menari, musik, alur cerita, dan kelucuan mungkin adalah beberapa jawaban dari pertanyaan tersebut. Pada dasarnya, mereka yang menjadi penggemar K-pop sama dengan mereka yang menjadi penggemar artis/penyanyi Indonesia atau American pop. Hanya saja, momen dimana para penggemar K-pop ini sedang menjadi sorotan dimana-mana, terutama media sosial. 

Demam K-pop pun juga bukan hanya di Indonesia saja, di Thailand, Amerika, Malaysia, China, dan beberapa negara lainnya. Dari yang aku amati, hal yang paling terlihat terpengaruh dari budaya K-pop adalah fashion. Pakaian dan aksesoris yang kerap digunakan idol (sebutan untuk girl/boy group korea) dan aktris/aktor dalam drama, sering kali ditiru oleh para penggemar. Hal itu tentu menjadi hal positif bagi mereka yang menjadi penjual atribut K-pop atau yang menjual pakaian-pakaiannya. Keinginan untuk memiliki atau menggunakan benda yang sama dengan idola mereka inilah yang cukup terlihat pengaruhnya.

Foto: Pinterest
Sering kali mendengar ada yang mengatakan, "Cie anak K-pop.", "ih alay." sebagai bentuk kontra mereka terhadap para penggemar K-pop. Ada juga yang menganggap aneh atau terlihat tidak suka ketika melihat penggemar K-pop yang sedang menonton video-video K-pop. 

Selama aku menjadi penggemar K-pop ataupun K-drama, memang ada hal negatif yang aku rasakan, tetapi hal positif pun aku juga dapatkan. Hal negatif yang kerasa adalah
  1. Addicted. Berasa kayak candu dan gak bisa berhenti buat gak nonton lanjutan episode berikutnya.
  2. Begadang dan lupa waktu. Karena saking addicted-nya bikin lupa waktu karena kalo misal lihat drama dan punya episode 1 sampai 16 (ending) bisa deh tuh begadang tanpa berhenti alias maraton gitu.
  3. Senyum-senyum nggak jelas. Because you found it funny but others don't think the same with you.
  4. Boros. Boros disini kalo misal beli-beli benda yang kaitannya sama yang kita suka. Buat kita sih kayak wajar ataupun lumrah tapi orang lain yang lihat kita beli-beli barang atau bahkan tiket konser bakal mikir itu mubazir.
    Foto: 2PMAlways

    Foto: 2PMAlways
Walaupun ada hal yang bisa dibilang something that's unreasonable but there are something good that I can take from being K-popers.
  • Expand knowledge. Dari lihat drama-drama Korea maupun variety show-nya, aku jadi nambah ilmu lagi. Bukan cuma tentang budaya korea aja, tapi juga budaya lain (kayak misal kalo mereka lagi visit negara lain). Jadi lebih tahu tentang dunia internasional gitulah.
  • Belajar bahasanya. Karena bahasa Korea bukan bahasa ibu ataupun bahasa kedua aku, so aku jadi belajar bahasa Korea dari nontonin drama ataupun variety show. Bisa dibilang bahasa adalah kendala buat para international fans. Kita butuh adanya subtitle (atleast English subtitle), nah jadi belajar bahasa Korea dan bahasa Inggris. Sekarang pun udah ada beberapa kosakata yang aku tau artinya tanpa perlu subtitle, walaupun masih sedikit banget.
  • Healing time. Ketika mood lagi buruk banget dan bawaannya emosi, aku kadang milih untuk nonton variety show korea karena nyatanya bisa memperbaiki moodku. Kayak misal nonton The Return of Superman, variety show tentang para celeb yang udah jadi bapak buat ngasuh anak mereka yang unyu-unyu itu.
  • Buat yang susah makan mungkin akan jadi bernapsu buat makan. Karena setiap kali liat mereka makan itu kayaknya enak banget, sampe bikin ngiler. Sumpah, jangan nontonin yang lagi makan-makan tengah malam, karena bakal bikin super ngiler kruyukan perutnya tengah malam. (ups, ini neg or pos? He he )
  • Bisa jadi lebih sehat, karena beberapa fans akan ngikutin gerakan dance dari boy/girl group itu. Nah dengan gitu kan jadi banyak gerak jadi sama dengan olahraga.
Terlihat seperti aku sangat pro pada K-pop. Perlu diketahui saja, K-pop masuk ke Indonesia sebenarnya sudah cukup lama. Aku sudah mulai menontonnya mungkin sejak SMP dan aku juga ingat kala itu aku juga menonton drama-drama taiwan. Hanya saat ini jumlah yang menjadi penggemar semakin meningkat dan yang digemaripun semakin banyak. Bukan hanya dramanya, tetapi juga musik, variety show, boy/girl group, fashion, bahkan makanannya.

Menggemari sesuatu boleh asal tidak menjadi berlebihan dan bahkan membahayakan diri kita sendiri. Ambil hal positif dari apa yang kamu gemari dan usahakan untuk menghindari dari hal yang bisa mempengaruhi ke arah yang buruk. So guys, what do you think about K-pop? These are what on my mind when I heard about K-pop. Kalo ada yang sependapat boleh, yang nggak sependapat juga boleh. Ingat, di Indonesia semua warganya berhak untuk berpendapat, tapi ketika kalian berpendapat tentu ada etika yang perlu kalian jadikan pertimbangan.

Stay calm, stay positive, guys!
Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Pada akhir pekan lalu, saya membeli sebuah buku berjudul ‘Generasi Langgas: Milennials Indonesia’. Sudah sejak lama saya ingin membacanya, namun baru kesampaian kemarin. Ada yang menarik dari topik bahasan Barcode Project kali ini. 

Saya nggak akan membahas buku terlalu jauh, melainkan akan menghubungkan dan mencocokan apa yang saya baca dengan tema barcode bertajuk ‘Society’. Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai muncul dan maraknya deman K-Pop. 

Demam K-Pop ini sebenarnya sudah ada sejak lama akan tetapi saya tidak bisa memastikan kapan pertama kali muncul. Namun demikian, menurut salah satu teman yang juga seorag K-Popers (sebutan pecinta budaya, Idol dari Negeri Ginseng) menyebutkan Drama Korea mulai masuk di Indonesia saat saya masih SMP. Jika ditarik ke belakang, saya SMP sekitar tahun 2009. 

foto: soompi
Dia bercerita, kemunculan para penggemar Korea yang semasif ini karena ada momen. Dia mengklaim Drama Korea yang ditayangkan di sebuah televisi swasta biasa disetel pada malam hari atau menjelang dini hari (Saya lupa obrolannya, maaf kalau kurang tepat). Jadi karena penanyangan drama tersebut memengaruhi penonton alias nggak banyak yang nonton. Begitu kata salah seorang temanku. 

Dari cerita tersebut, saya mulai membayangkan ada benarnya juga. Namun di sisi lain, jumlah para penggemar K-Pop ini semakin bertambah karena beberapa faktor. Salah satu faktornya yaitu adanya kemudahan akses informasi mengenai K-Pop. Kita tahu para penggemar K-Pop menjadi tahu tentang K-Pop lewat media-media informasi. Salah satu yang berperan adalah melalui internet. 

Bayangkan saja, kita orang Indonesia bisa mengetahui hal yang jauh dari mana kalau bukan internet, buku, dan media konvensional lainnnya. Ngomongin soal demam K-Pop, pasti nggak bisa dilepaskan dari anak muda. Dilansir dari buku Generasi Langgas: Milennials Indonesia disebutkan anak muda Indonesia sekarang ini tergolong sebagai generasi milennials. 

Generasi milennials ini disebut sebagai generasi yang tumbuh berkembang bersama kemajuan teknologi. Dikutip dari buku karya Yoris Sebastian disebutkan bahwa generasi milennials atau dalam buku menggunakan kata generasi langgas sebagai generasi yang berbeda dari generasi lainnya. Nah dalam buku disebutkan beberapa ciri seperti instant generation, efficient, to many choices, love learning, information overload, tech savvy, multi tasker, dan lain-lain.

Membaca beberapa ciri generasi langgas, saya mulai menemukan titik kesaman mengenai bagaimana para generasi langgas dalam menjadi penggemar? 

Ketika mengidolakan seseorang, generasi langgas akan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang sang idola. Mereka memiliki banyak cara untuk memerolehnya. Bukan jadi hal tabu, kalau para K-Popers punya sumber-sumber terpercaya untuk memperbarui aktivitas sang idola. Hidup di era internet ini, kamu pasti termasuk orang yang banjir akan informasi. Coba deh kamu ketik satu kata kunci di google, pasti akan ada ribuan informasi. 

foto: pexels
Penggunaan internet dan gawai untuk mencari informasi sang idola menunjukkan fans adalah orang yang tech savvy alias nggak gaptek. Bukan hanya itu, generasi langgas dalam mengidolakan seseroang akan menjadi pribadi yang efisien. Mereka sudah tahu cara terbaik yang sesuai kantong pribadi. Contohnya ketika ada album atau konser atau karya terbaru dari sang idola. Mereka masih memiliki batas kewajaran. Sefanatik sama sang idola, kasarannya mereka tahu diri hehe. 

Kalau mampunya nonton lewat YouTube, mereka akan memilih menyaksikan lewat YouTube. Akan tetapi jika mereka berniat nonton secara langsung, merekaakan putar otak untuk mewujudkan harapannya. Bisa jadi mereka nabung, bikin usaha, atau kepepetnya minta orangtua. Mereka adalah orang yang punya rasa ingin tahu besar, suka belajar, tapi ya kadang pengennya yang instan. Hehe

Menurutku kemunculan demam K-Pop itu hal yang wajar dan lumrah ada di tengah era informasi ini. Saya yang nggak begitu mengidolakan seleb Korea malah senang mendengar obrolan teman tentang idolanya Saya jadi tahu iniloh ada seleb yang begini, karyanya begitu, budaya Korea tuh aslinya gini, dan sebagainya. 

Terima kasih sudah membaca, kalian sependapat atau punya pendapat lain? Bisa banget japri saya atau komen di bawah ini. 

See you next post!
Regards,

V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Foto: Pinterest

Sadar atau tidak sadar? Ada beberapa orang yang secara sadar melakukannya, tetapi ada pula mereka yang tidak sadar telah melakukannya. Ya, bullying. Ini bukanlah hal baru. Saat ini sedang marak video yang memperlihatkan pem-bully-an yang dilakukan oleh mereka yang masih remaja dan mereka yang sudah bisa dianggap dewasa. Selain itu, pem-bully-an fisik juga kerap kali dikaitkan dengan sekolah, universitas, ataupun orientasi awal sekolah. 

Padahal, pem-bully-an juga kerap kali terjadi dengan mulut mau pun jari. Pem-bully-an bisa terjadi dimana saja. Secara tidak sadar ataupun sadar, ketika seseorang mengeluarkan kata ejekan ataupun kata kasar yang bermaksud menghina bisa jadi itu menjadi awal dari bullying secara verbal. Terus menerus mengolok-olok, termenerus menyakiti dengan kata-kata kasar atau ucapan hinaan terkadang lukanya lebih parah daripada luka fisik. 

Pem-bully-an dengan jari mungkin lebih sering dihadapi oleh mereka public figure ataupun mereka yang telah terkenal melalui media apapun itu. Meninggalkan komen-komen dengan kata-kata kasar, makian, cemooh, hinaan, bahkan fitnah di laman media sosial seseorang juga bisa menjadi tindak bullying secara tidak langsung. Perkata-perkataan tajam itu, entah benar atau tidak, tetap saja menimbulkan luka. 

Bukan hanya menindak tegas secara hukum saja, tetapi perlu ada pendampingan, pembimbingan bagi mereka yang menjadi "korban", "pelaku", maupun "saksi" dari bullying baik secara psikologi ataupun tidak. Terkadang ketika terjadi hal semacam itu, ada pihak yang menyalahkan sekolah, universitasnya ataupun instansinya. Tetapi perlu diingat, orang tua juga memiliki peran untuk mendidik dan mengontrol aktivitas putra-putrinya, seperti games yang mereka mainkan atau tontonan yang mereka lihat setiap harinya. Edukasi dini tentang bullying di sekolah dan keluarga juga penting. Edukasi tentang saling menyayangi sesama manusia dan makhluk hidup juga perlu benar-benar ditanamkan. 

Semoga tidak ada lagi kejadian pem-bully-an dimanapun, sekolah, universitas, tempat kerja, atau dimanapun. Tebarkan hal positif dan selalu menyayangi sesama. Hewan dan tanaman saja perlu disayang apalagi kita yang sesama manusia. :)

video from Brock Burnett youtube channel.
Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Baru-baru ini mencuat video yang menunjukkan adanya aksi perundungan atau biasa disebut dengan bullying. Kasus yang paling menjadi buah bibir, pertama kasus mahasiswa Gunadarm* dan kasus anak SMP di Thamrin City. Dua video tersebut menjadi viral lantaran sebuah akun bibir mengunggahnya.

Saya pribadi sudah nonton kedua video tersebut dan membatin, "ih apa banget sih ini anak?" Sementara itu, saya juga sok-sokan menjadi pengamat komentar. Tak sedikit para komentator alias netizen yang ikut bersimpati dengan si korban. Sementara itu, ada pula yang mengutuki para pelaku dengan kata-kata yang nggak kalah sadis.

foto: statisticbrain.com

Sebentar deh! Tunggu dulu!

Ini kan kasus perundungan di mana ada pelaku dan korban. Tindakan ini adalah tindakan tak terpuji yang selayaknya nggak dilakukan atau dihindari. Tapi dengan hadirnya komentar sadis yang mengutuki para pelaku? Lha apa bedanya komentator dan pelaku perundungan?

Di saat yang sama, saya menemukan kutipan menarik yang menanggapi adanya kasus perundungan. Kasus tersebut bukanlah hal baru, melainkan cerita lama yang (maaf selalu) terulang. Ngeri nggak sih? Namun demikian, mari kita belajar bersama-sama dalam menyikapi perundungan ini. Salah satu yang bisa menjadi refleksi kita semua adalah cuitan dari Najelaa Shihab. Beliau adalah pemerhati dunia anak dan pendidikan. Pertama kali saya mengenal lewat laman Youtube Semua Murid Semua Guru. 

foto: twitter Najelaa Shihab.

Berikut cuitan Najelaa terkait perundungan,
"Menangani perundungan adalah soal pencegahan dan pembiasaan bukan semata penindakan dan hukuman. Kasus "baru" yang hebih di media sosial jangan sampai menjadi cerita "lama". Sekadar peringatan sesaat yang diwarnai keprihatinan tapi tidak menggerak perubahan penanganan dan kebijakan."


Kasus ini nggak akan selesai dengan hukuman dan penindakan paska kejadian. Ada hal yang seharusnya kita semua lakukan seperti melakukan pencegahan dan pembiasaan. Poin penting yang ditegaskan Najelaa adalah Peduli bullying yang salah kaprah. Melabel korban, menyalahkan pelaku dan membiarkan saksi.

Kamu bisa baca tulisan lengkap Najelaa Shihab di sini. Yuk kita sama-sama bijak menyikapi perundungan yang ada!

Regards,

V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hi, Barcodes!
Lama enggak nge-post beberapa hari ini. Nah, kali ini tema barcodeproject adalah society.

Foto: Amandhatravel

Hari ini adalah hari pertama bagi mereka yang senin kemarin libur. Beberapa minggu ini pas banget ada tanggal merah di deket-deket weekend. Tiga hari tanggal merah itu kayak good news and bad news at the same time. 

Kenapa?

Dan jawabannya adalah Jogja jadi penuh. Penuh dengan bus-bus pariwisata, penuh dengan mobil plat luar selain AB, dan penuh dengan kemacetan di beberapa jalan utama di Jogja. Ya walaupun kemacetannya nggak separah Jakarta, cuma kali ini lumayan membuat kaki capek ngerem, nyangga, ngerem, nyangga.

I'm fine with the crowd, tapi bisa kali ya pada tertib juga sama lalu lintas. Hargai dan hormati sesama pemakai jalan dongs. Jangan karena baru dapet jalanan sepi dikit, udah main ngebut ngegas gitu. Dan buat pejalan kaki atau penikmat sekitar Tugu dan Malioboro, kalo mau foto atau nyebrang juga jangan seenaknya. Ada kalanya pengendara udah hati-hati tapi ada pengendara lain atau pejalan kaki yang sembrono yang bisa mengakibatkan ketidaknyamanan bahkan sampai kecelakaan.

Selain itu, buat para pengendara mobil beserta isinya tolong dong, kalo buang sampah jangan sembarangan. Jalanan bukan tempat sampah! Bisa kali simpen dulu sampahnya dikresek terus nanti dibuang kalo udah nemu tempat sampah. Masak tumpangan oke, kelakuan minus. 

Kadang rasanya males buat keluar di kala Jogja lagi penuh sesak gitu. Tapi ya gimana, kota Jogja emang kayak punya magnet tersendiri buat menarik dan mengikat orang untuk dateng. Positifnya adalah seneng tentu, buat mereka yang ada usaha dagangan dan segala macem jadi pada laku. Yups, semua hal ada baik buruknya, tergantung gimana kita melihat dan menyikapinya.
Foto: Pinterest

Be aware with your surrounding, pal!
Be safe while enjoying your weekend!
Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
foto : pexels.com

Apa yang terlintas dalam benak kalian semua ketika mendengar kata Yogyakarta? Saya jamin sebagian besar jawaban kalian adalah kota wisata, kota pelajar, kota yang nyaman, dan lain-lain. Hmmmm bolehlah kalian menyebut demikian. Tapi coba dipikirkan lagi, adakah padanan kata yang sesuai untuk menggambarkan keadaan Jogja saat ini?

Seperti judul di atas, kalian sudah tahu ke mana arah tulisan ini bermuara. Yak apalagi kalau bukan menyoroti jalanan Yogyakarta yang semakin hari semakin padat. Saya sebagai masyarakat asli Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahu betul perkembangan jalanan ini. ((Maksa))

Saya melihat Yogyakarta tumbuh menjadi kota yang padat merayat. Apalagi ketika long weekend tiba. Jogja seolah nggak ada rasa liburannya. Maksudnya nggak ada rasa selo dan santai kayak di pantai gitu. Suasana yang ada malah terjadi sebaliknya, macet, panas, bising, dan lain-lain. 

Bagi saya masa liburan ala long weekend sebaiknya menghindari Kota Yogykarta. Liburan selayaknya dinikmati untuk mencari keseloan dan suasana beda dari kebiasaan. Tapi nyatanya, warga Jogja justru harus menelan pil pahit. :')

Sepertinya warga Jogja punya cara lain untuk menikmati liburan ala mereka. Bagiku kali ini Jogja never ending traffic jam. Hiks Sedikit sedih ya :')


Regards,

V


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar




Foto : Google

Holaaaa, kenalin saya arista :).. PENGACARA part time "pengangguran banyak acara" yang pingin bisa nulis..kali ini alhamdulillah akhirnya bisa dikasih kesempatan buat ikutan nulis di blog ini juga , So..langsung aja yuk bahas sesuatu yang menarik hari ini (batin : semoga menarik)
..
..
Ok kita bahas soal Long Weekend Distance Relationship ..ehhh apaan seh ngaco.. hihi..
maksudnya long weekend, iya long weekend???? Waktu kamu berencana buat janjian dan berujung wacana karena Mager?? Macet?? atau…sedang terlalu banyak berfikir tentang long weekend enaknya kemana ya? Ngapain? Sama siapa? Hmm.. kadang sering kepingin ini itu , kesana sama ini sama itu , tapi pada akhirnya ga jadi jadi juga, apalagi karena ngelihat cuaca di luar rumah yang panas banget dari pagi dan sorenya yang sering kali malah hujan. Belum lagi jalanan yang penuh sesak dan macet dimana-mana. Gimana ga mau macet kalau 3 minggu berturut- turut dapat libur 3 hari karna tiap hari senin kejatah tanggal merah, akhirnya bagi para pekerja, anak kuliahan yang sabtu-minggu libur jadi dapat bonus 1 hari libur lagi di hari senin tuh (jadi serasa buy 2 get 1 kan yaa , hihi). Oh iya selagi orang kantoran atau anak kuliahan pada libur setelah Ujian Sekolah, ada adik-adik kita juga yang sudah dan akan mempersiapkan Ujian Nasional juga kan, jadi makin banyak anak-anak sekolahan yang pada libur dan akhirnya menambah kepadatan jalanan kota Yogyakarta baru-baru ini. But..FYI neh ya..belum lama ini juga diadakan Air Show di beberapa tempat di sekitar Yogyakarta sebagai rangka diselenggarakannya perayaan HUT AAU. Wuihhh keren yaa, dari pagi sekitar pukul 09.00 WIB sampai sekitar pukul 15.00 WIB dilangit kota Yogyakarta banyak terlihat atraksi dari bapak-bapak pilot yang pastinya seru dan bikin Baper (maklum..saya dulu pernah punya cita-cita nerbangin pesawat tapi kagak pernah kesampaian :D). Tapi daripada baper ga jelas sama saya, mending nyimak salah satu cerita pendek yang ga sengaja tercipta dari analisa dan sedikit pengalaman dari sebuah kejadian yang ada di sekitar saya tinggal, tepatnya disaat kondisi kota Yogyakarta dan sekitarnya begitu padat merayap.
..
Jadi begini awal mulanya….
Minggu, 30 April 2017 di sekitar Malioboro,Yogyakarta (dilema antara macet dan pengguna  fasilitas umum yang kurang tertib)
Pasti kalian para warga asli maupun pendatang di kota Yogyakarta sudah pernah berjalan jalan santai disekitaran Malioboro terutama sejak jalanan tersebut (jalan disekitar pertokoan yang ada disana) telah diubah untuk memberikan kesempatan para pejalan kaki agar merasa lebih nyaman dan aman berjalan di sekitar Malioboro, ditambah lagi dengan fasilitas umum seperti tempat parkir kendaraan bermotor yang sengaja disediakan di salah satu sudut jalan Malioboro (disekitar Jl. Abu Bakar Ali), kursi dan taman taman bunga mini disekitarnya yang memang bertujuan untuk memperindah tatanan kota Yogyakarta serta mengurangi kemacetan kendaraan bermotor khususnya kawasan Malioboro yang memang tidak pernah sepi. Tapi sadar tidak sadar hal tersebut ternyata menjadi boomerang bagi pemerintah daerah untuk mengatasi masalah kemacetan di sekitar kawasan Malioboro, Yogyakarta tersebut. Bagaimana tidak? Tidak sampai 6 bulan atau mungkin kurang dari 3 bulan sudah mulai bermunculan kembali kendaraan yang sembarangan memarkirkan kendaraannya , memang seh tidak separah dulu , tapi karna posisi mereka parkir di sekitar barisan gang pertokoan di Malioboro, hal tersebut masih sangat mengganggu para pejalan kaki maupun kendaraan bermotor yang lain terutama saat keadaan jalanan begitu macet. Bahkan parahnya lagi ada beberapa pengendara motor yang nekat lewat di jalan yang khusus dibuat untuk pejalan kaki (sayang..ga sempet ngefoto ;O ). Belum lagi yang parkir motornya di trotoar dekat zebra cross..nahh lohh kalau udah begini yang ngingetin siapa ya? Kalau kita yang ngingetin malah disewotin..heran kan padahal hal tersebut berbahaya loh terutama bagi pejalan kaki. Tapi terlepas dari itu saya juga penasaran dengan para tukang becak yang mulai banyak bermunculan parkir di jalanan sebrang Mall Malioboro tepatnya, beberapa masih juga suka ngelawan arus (soalnya saya dulu korban ditabrak becak , padahal udah minggir atau nyebrang di zebra cross, tapi si tukang becak ga mau ngalah dan masa bodoh sama kita..banyak alasanlah pokoknya)..btw, kelihatan menjudge mereka salah banget ga ya..kalau iya maaf banget deh ya, tulisan ini hanya saya maksudkan untuk menjadikan pembelajaran bagi kita semua untuk mematuhi aturan lalu lintas dan menghargai hak setiap individu untuk mendapatkan kenyaman ataupun keamanan dalam menggunakan fasilitas umum kok. Intinya kita tidak bisa selalu menuntut pemerintah untuk bisa mengontrol hal seperti ini tanpa kesadaran setiap individu yang ada di kota Yogyakarta khususnya, karena kalau kita bisa saling menjaga pasti lingkungan sekitar kita juga menjadi lebih tentram gitu kan ya (sok bijak .hehe). Jadi kalau mau pada ga macet selain harus mematuhi lalu lintas dan menggunakan fasilitas umum dengan bijak, kita juga harus menghargai hak pengguna fasilitas umum lainnya seperti pejalan kaki misalnya. Karna terkadang pejalan kaki juga masih sering dijadikan alasan sebagai penyebab kemacetan loh. Hal tersebut terjadi saat pejalan kaki masih banyak yang nyebrang sembarangan atau jalan di pinggiran jalan raya. Padahal kalau mau mereka tidak sembarangan berjalan kaki ,kalian juga para pengendara jangan menggunakan hak pejalan kaki ya.. dan berkendaralah di jalanan yang telah disediakan, maka keamanan serta kenyamanan dijalan pun kita rasakan. Begitu juga dengan para pejalan kaki yang masih suka sembarangan menyebrang jalan padahal jalanan sedang tidak terlalu padat, tetap harus tertib loh.. (artinya kalau kamu sebenarnya PEKA dan TERTIB dalam berlalu lintas, maka masalah ke-MACET-an bisa sedikit demi sedikit teratasi kok).
..
Hmm…uhukk uhukk (aslinya beneran batuk bukan untuk basa basi mau nutup tulisan)..
Finally ..karna kayaknya saya mulai terlalu banyak beropini dan mulai tambah ga jelas, jadi sepertinya kita akhiri saja hubungan ini deh.,.ehh?? akhiri saja tulisan ini maksudnya, semoga dari sini kita bisa saling belajar tentang bagaimana melatih ke-PEKA-an kita pada lingkungan sekitar terutama dalam menggunakan fasilitas umum yang ada (jangan lupa intropeksi diri ya , nunjuk diri sendiri juga neh saya)..dan terimakasih masih mau sudi buat kepo kepo dan membaca sedikit tulisan saya yang masih sangat banyak kurangnya, so.. mohon kritik dan sarannya juga ya ..and see you for next chapter (semoga masih punya kesempatan buat ikutan nulis di blog ini lagi #kode :P) 


dengan rendah hati,

A


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Foto: pexels.
Bagi sebagian orang, perjalananku dari rumah ke kantor adalah sebuah hal yang nggak biasa. Hampir setiap orang yang menanyakan alamat rumahku selalu terkejut dengan jawabanku.

"Ha rumahmu di sana, Vin?"
"Jauh banget!"
"Kamu nglaju tiap hari? Berapa menit/jam perjalanan?"
"Berapa kilometer?"

Perjalananku setiap hari memang terbilang nggak biasa. Saya membelah kepadatan jalan di kota. Waktu tempuh saya dari rumah ke kantor terbilang lama,  sekitar 45 hingga 60 menit. Nggak tentu, kadang cepet kadang lama. Saya pun sering telat ke kantor. Lalu kalau ditotal sekitar 90 menit hingga 2 jam (setiap hari), saya habiskan waktu di jalan.

Berbicara seputar perjalanan, dewasa ini jumlah kendaraan bermotor makin bertambah. Sementara jalan raya tak semakin melebar. Mungkin ada sebagian yang diperlebar, tapi jangka waktunya nggak seimbang. Kendaraan bermotor makin banyak dan imbasnya macet di mana-mana.

Kemacetan seolah jadi santapan harian saya. Kok sedih ya dengernya, tapi mau gimana lagi? Pemandangan tersebut seolah lumrah dan wajar adanya. Macet adalah salah satu hal yang tiap hari ku alami. Bukan hanya itu, ada banyak hal yang juga bikin geleng kepala. Apalagi kalau bukan para pengendaranya.

Jika jalanan sudah padat merayap, tentu si pengendara akan mencari akal agar perjalanannya tak terganggu. Mereka akan mencari cara agar perjalanannya terasa efisien dan efektif. Keinginan tersebut tak sejalan dengan pemahaman tertib berlalu lintas.

Para pengendara seolah mengabaikan aturan atau tata tertib berlalu lintas. Sekali lagi, hal tersebut seolah lumrah terjadi di keseharian. Sedih dan miris banget, hiks. Hal-hal tersebut secara tak langsung bisa menjadi kebiasaan dalam budaya berlalu lintas. Mengapa demikian? Pasalnya, para pengendara ini sudah paham bahwa itu hal yang salah atau kurang tepat. Namun demikian mereka tetap melakukannya. Alasannya? Banyak banget!

Kejadian-kejadian yang terjadi di jalan raya ini sering banget bikin mood naik pitam. Kesalahan yang mereka perbuat ini bikin saya dan pengendara lain kena imbasnya. Meski tak sampai marah yang meledak, saya seringnya bete sendiri dan misuh nggak jelas di jalan. Huhuhu

Adapun hal-hal yang bikin saya mengumpat nggak jelas di jalanan antara lain:

1. Boncengan berbanyak dan kaki si pembonceng tidak menampak di tempat semestinya.

Heu. Ini bikin bete maksimal! Entah ini alasan yang bisa diterima atau tidak. Saya paling nggak suka saat melihat pengendara motor yang membonceng orang. Kaki si orang yang bonceng nggak menginjak di pancikan, kalau orang jawa sebut. Jadi kaki dia itu lurus gitu hingga hampir menyentuh aspal.

Jujur, saya parno dan risih pake banget lihat begituan. Berasa pengen doain, kegesrek aja itu kaki kalau nggak nangkring di tempatnya. Nggak ding. Saya niatnya baik kok, ingin mengingatkan sebaiknya safety riding. Kaki menapak di pedal gitu kan lebih aman.

2. Main gas (mbleyer).

Haduuuuh yang ini apalagi, bikin polusi telinga. Saya nggak suka sama suara gas motor yang terlalu dipaksakan. Semacam orang mau bikin instrumen musik, jatuhnya malah memekakan telinga. Hal tersebut juga membuat konsentrasi si pengendara lain terganggu. Bahaya tahu kalau konsentrasi hilang.

3. Pengendara pelan tapi di tengah jalan.

Saya sepakat kalau jalan raya itu milik umum, jadi siapa saja berhak menggunakannya. Akan tetapi lebih bijak apabila pengendara tahu tempatnya. Kalau mau mengemudikan kendaraan dengan pelan dan hati-hati, sebaiknya menggunakan lajur sisi kiri. Sementara kamu yang suka salip sana sini, mari gunakan jalan lajur kanan. Eeeealah, saya sering ketemu orang memacu kendaraannya dengan pelan di tengah jalan.

4. Main klakson.

Selain suara main gas, saya nggak suka sama orang yang dikit-dikit main klakson alias nggak sabaran. Mohon bersabar ini ujiaaan~ Ujian kehidupan.

5. Pengendara motor naik trotoar.

Saya termasuk orang yang punya riwayat jalan kaki panjang. Selama SD hingga SMP, saya adalah seorang pejalan kaki dan pengguna kendaraan umum. Jadi saya tahu betul rasanya menjadi seorang yang jalan di tengah kota. Trotoar yang seharusnya diperuntukan untuk pejalan kaki, kini digunakan oleh pengendara untuk jalan pintas.

Jalan segede itu, masih kurang buat pengendara bermotor. Hasilnya sekali ada jalan, langsung libas. Hal tersebut sangat menganggu. Beberapa kali, saya sempat menulis artikel maupun bahan kuliah terkait penyalahgunaan trotoar.

https://m.brilio.net/duh/10-foto-penyalahgunaan-trotoar-ini-bikin-geram-pejalan-kaki-1703287.html

Kalau nggak kamu ketik nama lengkapku di Youtube. Nanti keluar video karya saya dan tim terkait trotoar.

6. Belum lampu hijau, sudah melaju.

Ini yang bikin paling bete dan jantung deg-degan. Saya sering pulang malam karena pekerjaan. Beberapa kasus di perempatan pada malam hari lengang. Meski begitu, selayaknya kita pengendara tetap mematuhi lalu lintas. Kalau merah ya berhenti, kuning pelan-pelan, dan hijau jalan.

Saking nggak sabar dan melihat situasi yang sepi, nggak sedikit yang memilih menerobos lampu lalin. Alhasil ada yang kecelakaan, karena berjalan tidak sesuai waktunya. Dont be fool, please.

7. Sein kiri, belok kanan.

Ini sering jadi bahan lelucon atau meme di media sosial. Tapi ini beneran saya alami dan termasuk sering! Aw aw, kadang sampai geleng-geleng kepala sendiri. Lalu berkata, "benar kata meme."

8. Pakai jubah atau jilbab panjang dan nutupin lampu sein.

Saya kok hilang respek ya sama mbak mbak berjilbab panjang nan menjuntai, ketika mereka naik motor dan jubahnya menutup lampu sein. Bolehlah berjilbab panjang hingga lantai, tapi mohon demi kemaslahatan bersama. Jilbabnya dibikin nggak nutupin plat motor. Kan nggak tahu si mbak itu mau belok kanan apa kiri. Nanti tahu-tahu belok gitu?

Hmmm apalagi ya? Sepertinya sudah banyak ya. Tak baik menuliskan hal di atas terlalu banyak. Nanti ketahuan, intensitas suka misuh di jalan. Nggak ding~

Sekian tema tulisan barcode kali ini. :)

Regards,

V

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Mengenai Saya

Barcode Projects
Lihat profil lengkapku

About me

Barcode Projects adalah sebuah proyek menulis yang diinisiasi oleh dua perempuan sok struggle dan tukang baper. Perempuan yang dimaksud adalah Ferizka Winda dan Vindiasari Putri.

Barcode Projects sendiri memiliki kepanjangan 'Barengan corat-coret'. Barcode Projects ini dijadikan wadah menulis dan berbagi cerita.

Labels

  • 1
  • 10
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • A
  • Barcodeprojects
  • Bebas
  • Cinta
  • Cowok
  • Evaluasi
  • F
  • Family
  • First Experience
  • Friend
  • Lagu
  • Review
  • Society
  • V

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2017 (95)
    • ▼  November (1)
      • #69, 70, 71, 72, 73, 74,75, 76, 77, 78
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (14)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (10)
    • ►  Maret (15)
    • ►  Februari (9)

Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates