Barcode Project

Barengan Corat-Coret Ide

Barcode Projects

  • Home
  • Penulis
Foto: Pinterest
Berhijab. 

Bisa dibilang aku mulai menggunakan kerudung atau hijab sejak aku duduk di bangku SMP. Kebetulan aku sekolah di salah satu SMP Muhammadiyah di Jogja yang mana mewajibkan siswi-siswinya untuk menggunakan kerudung. Walaupun ketika itu pun aku masih mengenakan kerudung saat aku pergi. SMA pun aku masuk di salah satu SMA Muhammadiyah, tentu jelas aku mengenakan kerudung setiap hari.

Berhijab atau mengenakan kerudung sendiri tentu kita umat muslim sudah tahu akan perintah Allah tersebut. Mungkin untuk masing-masing pribadi memiliki alasannya sendiri untuk belum mengenakan atau sudah memutuskan untuk mengenakan hijab. Allah telah berfirman dalam QS Al Ahzab : 59, yang bunyinya adalah " Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah merekan menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.' Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggung. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Awalnya masih suka melepas kerudung ketika merasa gerah saat sedang bermain di rumah teman. Seiring berjalannya waktu aku mulai selalu mengenakan kerudung ketika aku pergi keluar rumah. Rasanya sudah nyaman menggunakan hijab. Bahkan terkadang merasa ada yang kurang bahkan malu ketika tidak mengenakan kerudung ketika keluar rumah. Aku pun masih belum sempurna mengenakan jilbab ini, tapi aku berusaha untuk menjaganya.

Aman dan nyaman ketika aku mengenakannya. Dan sudah menjadi identitasku. Semoga bisa tetap menjaga dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang. Yang jelas aku mengenakan kerudung bukan karena trend, fashion, ataupun orang lain. Aku mengenakannya berawal dari belajar untuk melaksanakan perintah Allah, menjaga keluarga, dan juga karena dan untuk diriku sendiri.

Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hi, barcodes!
It's friday, so it's time for barcode project. Jumat kali ini, kita akan membahas tentang pertama kalinya kita dapet uang dari hasil sendiri. 

Foto: Pinterest
Ingat banget, dulu pas SMP dapat tugas bahasa Indonesia suruh nulis. Nah, ternyata tulisan aku yang awalnya cuma untuk ngumpulin tugas, dimuat di majalah sekolah. Sama sekali nggak ada niat buat masukin ke majalah sekolah dan I felt so proud of me. Bahkan aku juga nggak tahu kalau itu akan ada fee-nya. Walaupun fee-nya nggak seberapa cuma, rasanya tuh bangga banget. Gimana nggak bangga, tulisan ada di majalah sekolah (walaupun nggak tahu pada dibaca apa enggak itu majalah hehe), guru aku pun istilahnya mengakui adanya tulisan itu. Super proud of myself. 

Abis dipanggil guru tentang itu aja jadi senyum-senyum sendiri, apalagi dipanggil sama kamu, iya kamu, my future (mulai mengkhayal lagi). Nama juga masih anak SMP, uangnya pun dipake buat jajan bareng temen-temen dan baru deh sisanya disimpen. 

Nggak kalah sama perasaan yang aku rasain waktu SMP. Ketika kuliah pun aku ngalami perasaan itu lagi waktu aku magang. Di akhir magang waktu itu, aku diminta untuk stay sampai akhir semester. Dari tawaran itu, lumayanlah dapet uang tambahan. Rasanya selain bangga, aku juga jadi mikir bakal aku gunain buat apa, nabungkah, beliin orang tua apa, dan macem-macem deh. Walaupun uangnya juga gak seberapapun, lihat itu hasil kerja sendiri rasanya seneng banget. 
Foto: Pinterest
Bukan dilihat dari kapan aku mulai menghasilkan sesuatu, bukan juga soal materi dan seberapa capaian itu, tapi tentang perasaan yang ada dalam diri sendiri. Kepuasan, kesenangan, dan jelas ada kebanggaan disana. Ibaratnya dapet apresiasi yang nggak langsung gitu. Apresiasi apapun yang kamu lakukan walaupun hanya dalam hal kecil, karena itu akan sangat berarti bagimu.

Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai hai, udah lama nggak nyapa dengan sok manis manja penuh dengan basa-basi ini. he he he

Foto: Pinterest
Tema kali ini tentang first experience di-bully. Kalau ditanya aku pernah gak di-bully, sebenernya aku agak bingung karena aku nggak merasa kalo misal kena bully. Entah karena bukan bully fisik ataupun yang harassing gitu. Mungkin kalopun iya, verbal bullying sih. I just try to comfort myselft that they just saying for fun not for hurt me. But sometimes when I felt really tired or super sensitive, I just being silence or sulking a bit.

Malah aku kadang yang nge-bully temen aku. Cuma bullynya sebatas ejek-ejekan atau canda gitu ibarat saling lempar ejekan gitu, bukan bully fisik ataupun bully yang tend to hurt someone. Walaupun kadang aku juga sadar kalo jangan sampai candaan yang kecil melebar jadi masalah atau malah nyakit orang lain. Jadi tetep kudu bisa ngerem kalo kita lagi becandaan sama teman sendiri. Suka kebablasan kadang.

So, yang perlu diinget adalah ketika ada orang yang bully secara verbal, anggaplah angin lalu. Karena kalo dibiarin mengendap nanti malah jadi tekanan. Kalo suka becanda sama temen, inget juga buat ngerem atau disaring, takutnya kebalasan dan ternyata hurt someone. Dan kalo emang kena bully, jangan takut untuk cerita ke orang lain, ceritalah ke orang yang memang bisa dipercaya dan diandalkan. Don't let them take you down with their words. Be strong!!

Regards,

F

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Foto: Pinterest
Berbagi adalah satu kata yang indah. Ketika kita berbagi, berarti kita sudah berniat dan dengan ikhlas ingin memberi apa yang kita miliki kepada orang lain. Berbagi bukan hanya tentang harta. Berbagi bisa dalam bentuk apapun itu yang kita miliki atau kita bisa usahakan dan memiliki manfaat bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

Berbagi yang ini aku kaitkan dengan relawan. Menjadi relawan untuk pertama kalinya aku tidak tahu, tapi untuk pertama kalinya aku merasa ingin merasakan menjadi relawan bagi mereka. Sepertinya kata relawan terlalu berat bagiku, aku menggunakan kata berbagi disini yang menurutku lebih ringan. Ketika aku melakukannya, aku berniat untuk membantu dan aku ingin belajar. Belajar bertanggung jawab, belajar memahami sekitar yang selama ini aku masih awam, belajar untuk menambah kemampuanku, dan belajar untuk hal yang hubungannya dengan hati dan batin.

Ketika aku menjadi bagian dari mereka, teman-teman di Brailleiant.
Foto: Jepretan Pribadi

Banyak hal yang aku rasakan ketika aku menjalani kegiatan yang sudah aku niati sebagai relawan. Rasa gugup karena aku bertemu orang baru. Rasa Senang ketika aku bisa membuat orang lain tersenyum. Rasa bahagia ketika aku merasa ada orang lain yang membutuhkanku. Rasa khawatir karena aku merasa masih banyak kekurangan dalam beberapa hal. Rasa takut dan khawatir yang menjadi satu karena aku merasa bertanggung jawab akan apa yang mereka rasakan atau dapatkan dariku. Rasa bingung ketika aku menghadapi hal baru yang aku belum pernah hadapi. Rasa bangga karena aku pernah ada di antara mereka. Rasa berterima kasih karena aku bisa belajar banyak hal -kebanyakan hal baru-dari mereka. Rasa bersalah karena aku sadar jika aku masih sering kali tidak bersyukur. Rasa sayang karena mereka dengan baik dan terbukanya untuk menyambutku untuk bergabung dengan mereka. Rasa yang entah aku tidak tahu harus mendeskripsikannya seperti apa karena aku pernah mengenal dan menjadi bagian dari mereka ya membuatku sangat berterima kasih.

Menjadi relawan karena memang aku ingin. Aku ingin berbagi, aku ingin belajar, dan aku ingin bisa bermanfaat untuk orang lain.

Pernah ada yang bertanya, "Kenapa kamu ikut kegiatan itu/pergi kesana?" Jawabanku pun cukup singkat. " Ya karena aku pengen aja." Ketika ditanya alasannya, aku tidak bisa menjawab dengan benar-benar spesifik, karena sesungguhnya jawabannya adalah ada dihati dan batin kita.

Menjadi relawan bukanlah hal yang umum di lingkunganku dan mungkin di Indonesia (menurutku). Kata relawan di Indonesia kadang lebih identik dengan membantu dengan suka rela ketika ada bencana saja (menurutku), padahal sebenarnya ada banyak hal atau kegiatan yang lain yang membutuhkan rasa simpati dan empati kita untuk mau menjadi relawan. Menjadi relawan bagiku bukan yang kita harus bergabung dengan suatu kelompok untuk melakukan hal baik. Tetapi ketika kita rela memikirkan orang lain dan mampu berbuat baik pun bisa mengajarkan kita untuk menjadi relawan dalam arti yang sederhana. 

Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Foto: Pinterest

Untuk pertama kalinya aku dapet undangan untuk diriku sendiri itu rasanya WOW. Undangannya bukan sekedar undangan rapat atau pengajian, tapi undangan nikahan orang. Dan tenang, undangan nikahannya bukan dari mantan atau gebetan, undangannya dari sahabat aku semasa kuliah.
Foto: Pinterest

Yups, rasanya tuh WOW banget. Kenapa?

It just made me realize that I'm getting older. Bener-bener kerasa kalo aku tuh udah bukan lagi anak-anak. Bukan lagi waktunya untuk cuma mikirin main, tapi ada hal-hal lain yang lebih penting (misal sekolah, kerja, social life, atau keluarga) untuk dilakukan dan disiapkan untuk masa depan gitu. 

Selain itu juga, aku jadi sadar kalo aku udah hampir berada di step dimana aku juga kudu mikirin bakal spend my life with whom. Semakin kesini juga semakin banyak untuk membuat pilihan untuk diri sendiri, pilihan yang cuma aku sendiri yang megang key-nya.

Dan terakhir, jadi mikir kalo tanggung jawab yang ada dipundakkupun akan semakin berat dan semakin besar. Semakin kudu bisa lebih mandiri juga. Meskipun maturity seseorang tidak dilihat dari umurnya tapi di fase ini jadi merasa kalau aku juga kudu semakin dewasa dalam menghadapin semua situasi sih. Walaupun orang yang udah nikah pula belum tentu udah bener-bener dewasa.

Regards,

F


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bukan perkara mudah melupakan segala hal yang terjadi pada waktu pertama kali. Entah itu hal baik atau buruk, tetap membekas di memori. Seperti halnya ketika mendapat undangan pernikahan dengan nama sendiri. 

Bagi saya ataupun kamu yang telah memasuki angka 20 tahunan, bukan hal tabu dan aneh ketika mendapat sebuah undangan pernikahan yang ditujukan untukmu. Pasalnya, usia 20 tahunan sudah menjadi 'usia relatif untuk menikah'. Usia relatifnya saya tanda kutip ya hehe

Saya pribadi, pertama kali mendapat undangan pernikahan dengan nama penerima Vindiasari ketika usia 22 tahun. Awalnya merasa sedikit 'aneh', karena biasanya saya mendapat undangan pernikahan atas nama mama atau papa saya. Kali ini saya yang dapet~ Meski merasa aneh, selebihnya saya merasa bahagia karena temanku satu per satu menggenapkan ibadahnya. Aw~ 

Untungnya, saya bukan tipe anak baper ketika melihat undangan pernikahan. Meskipun saya akui, saya juga pengen punya undangan lucu-lucu yang chic! Saya sering melihat desain undangan lalu terbesit keinginan. "Besok undangannya kayak gini ah, simpel, lucu, warnanya nggak norak dan lain-lain." Yaelah, udah mikir undangan aja. Hehe

Segitu dulu ya cerita pertama kali dapat undangan nikah. Doakan segera menyebar undangan serupa~ 
Thanks ya!

Regards,

V

Foto: bridestory.com
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
It's Friday and it's 17 April, it means barcode's second monthiversary!
Foto: i.huffpost.com
First experience kali ini adalah travel alone a.k.a solo travel. Honestly, I've never travel alone. Mostly, I travel with my family or friends. Tapi, pernah sekali aku travel cuma berdua sama kakakku yang juga gak sering solo travel. Waktu itu kita ke kota yang katanya selalu macet. Yups, Jakarta. 

We went to Jakarta, coz I've to accompany my sister to her friend's wedding. Actually, nothing special but I kind felt how is the feeling travel alone. Like you've to move quickly, be responsible on your own, and you've to adapt with the environment quickly. 

Aku menikmati perjalanan yang kurang lebih 8 jam naik kereta Jogja-Jakarta. Begitu sampai stasiun Pasar Senen, aku ketemu temen mbakku yang kita mau tumpangi, dan for the first time naik KRL. Baru move dari kereta langsung masuk ke KRL dan waktu itu pas banget sama jam pulang kantor yang, WOW, padat banget. Pertama kali naik KRL, ngerasa "duh rame banget, kayaknya nggak lagi-lagi deh.", terus abis itu ngerasa, "not bad, dan jadi pengen ngerasain naik public transportation ini ke depannya."
Foto: Jepretan Pribadi
Pas di KRL pun mereka sama-sama saling menghargai, dan consider with others juga kok. Dan buat kalian yang belum pernah naik KRL nih, buat yang cewek mending naik gerbong yang khusus wanita. Apalagi kalo lagi jam padat gitu, lebih aman untuk yang cewek naiknya di gerbong khusus cewek. Yang aku tahu sih kalo khusu cewek itu ada di yang ujung-ujung. Kalo kemarin sih aku ngehnya, gerbongnya pasti warna pink, (tapi nggak tau juga sih bener semua pink enggak).

Nggak banyak yang aku lakuin disana. Aku kali ini sih mau share yang kaitannya sama kereta. Oh iya, kemarin juga jadi belajar kalo mau pergi-pergi apalagi naiknya public transportation, kudu banget on time kalo bisa lebih awal. Itu hukumnya WAJIB!

Dan waktu balik dari Jakarta, aku ambil kereta yang malem. Dan karena ekonomi jadi aku kudu berhadapan dengan penumpang yang lainnya. Sedikit awkward dan nggak nyaman sih, cuma yaudahlah. Untungnya sih mas-mas depan kita nggak nyebelin dan tidur dengan antengnya hahaha

Pas malem gitu, agak lupa jam berapa, agak ada hal yang bikin deg-degan. Karena tiba-tiba aja penumpang disebalik kursi aku tuh kayak ngigau gitu. Bapak-bapak dan kayaknya sampai beliau jedukin entah tangan entah kepala, karena ada suara brug-brug yang berulang kali dan aku nggak berani nengok mastiin. Ngerasa horor aja. Dibangunin istrinya, sampai pihak kereta juga ada yang kesitu, nanya sekaligus mastiin gitulah. Agak horor sih..

I hope I can enjoy another solo travel again next time.. 
Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
UWOOOOO... Udah tanggal 17 Maret aja.. Cieee Barcode Projects udah sebulan cieee.. 😆

Hi, guys! Today, we are going to share about our first experience topic. Last month, we talked about the first experience of being a secret admirer. But, now I'll tell you my very first-time travel by plane. It sounds like a boring or ordinary topic, but it's very meaningful to me. Why?

Because I went to MECCA with my family!!! It was on February 2014. Went to Mecca is one of the best birthday gifts I've ever received. Mecca and Madina are the places which full of peacefulness, warmness, and most beautiful place I've ever visited. All muslim always want to go there.

Yups, back to the topic. Traveling is one of way to relieve stress. I usually travel by motorcycle, car, bus, or train. I just travel around Java, Indonesia and I've never gone aboard. My very first-time flew by plane and I went to the other country, which took me almost a day (in plane and transit), I felt so excited and worry at the same time. I was afraid if I got motion sickness, if I missed the plane, or if something bad happened. I was also very happy because I'm able to spend the holiday with my family. 

Photo: Private Collection

Alhamdulillah, there was no bad things happened to me. If I'm not mistaken, I had to transit twice in Jakarta and Dubai before I got to Madina. The stewardess offered me several choices of drink and food. That's what I love. Food everywhere. Hahaha They explain everything and help all the passengers. I could enjoy movies and music. And during the night, to make the passengers feel comfortable, the ceiling turn into a beautiful sky with stars -even though it's fake star and only lamp. I enjoyed my trip.   

And on my way back to Indonesia, I met an airport staff (I don't know how to call him), he helped me push my sister in a wheelchair. He is from Philippine and he's very friendly. He asked me where I'm from, my age, my occupation, some common questions, and asked some words in Indonesian. During that talks, he asked my facebook id and wanted to introduce his son to me. Because I was confused with the situation at that time, so I just smiled and didn't give him any info. He knew that I felt awkward, so he said, " It's okay if you don't want. My son is around your age and I just wonder if you could be friend with him on facebook. It's okay." Nyaris mau jadi mantu orang Filipina. Hahahaa

Taken in Nabawi Mosque
Photo: Private Collection

I never forget that story. Some of my friends already knew about this story, but I just want to share it. 
I really enjoyed that short holiday. And I was really grateful to Allah and my parent for giving me the opportunity flew to Madina and Mecca. 💖💖

Traveling aboard is one of my dreams. And I've some list of countries. I just hope that I can realize my dream to travel around Indonesia and around the world, although only some cities or countries. Amin 
Regards,

F


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Mengenai Saya

Barcode Projects
Lihat profil lengkapku

About me

Barcode Projects adalah sebuah proyek menulis yang diinisiasi oleh dua perempuan sok struggle dan tukang baper. Perempuan yang dimaksud adalah Ferizka Winda dan Vindiasari Putri.

Barcode Projects sendiri memiliki kepanjangan 'Barengan corat-coret'. Barcode Projects ini dijadikan wadah menulis dan berbagi cerita.

Labels

  • 1
  • 10
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • A
  • Barcodeprojects
  • Bebas
  • Cinta
  • Cowok
  • Evaluasi
  • F
  • Family
  • First Experience
  • Friend
  • Lagu
  • Review
  • Society
  • V

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2017 (95)
    • ▼  November (1)
      • #69, 70, 71, 72, 73, 74,75, 76, 77, 78
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (14)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (10)
    • ►  Maret (15)
    • ►  Februari (9)

Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates