Barcode Project

Barengan Corat-Coret Ide

Barcode Projects

  • Home
  • Penulis

Ada kalanya memilih. 
Seperti hidup yang selalu memilih di antara banyak pilihan. 
Kita memilih untuk hiatus sampai waktu yang belum ditentukan. 
Sampai bertemu di angka selanjutnya.

Regards, 
V, F, A.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
foto: istimewa. 

Generasi menunduk. Sudah nggak asing lagi di telinga kita. Ungkapan tersebut muncul sekitar tahun 2012 di mana ada sebuah film bertajuk Republik Twitter yang dimainkan oleh Laura Basuki.

Generasi menunduk ini pun menjadi perbincangan hangat karena begitu familiar dengan kehidupan kita. Generasi menunduk ini ungkapan yang disematkan pada orang yang terbiasa menggunakan gawai seperti smartphone, tablet, dan lain-lain. Posisi orang menggunakan gawai pastilah menunduk, oleh sebab itu disebut generasi menunduk.

Posisi memainkan gawai tersebut membuat banyak orang lupa segalanya. Apalagi kalau sudah fokus pada si handphone pintar, sekeliling seolah diabaikan. Keadaan tersebut sering banget saya temui dan saya alami. Contohnya saat bertemu dengan teman, kita akan lebih sibuk dengan gawai masing-masing. Nggak cuma sekali, saat mampir ke rumah teman pun kita akan lebih dulu menghubunginya lewat gawai dibanding mengetuk pintu rumahnya atau membunyikan bel.

"Kadang kala, gawai menjauhkan yang dekat sekaligus menjauhkan yang dekat."

Namun generasi menunduk atau kids jaman now  ini punya sisi positifnya juga kok lewat gawai. Di sisi lain, banyak yang memulai bisnisnya lewat gawai. Hanya modal smartphone, mereka bisa meraup keuntungan yang banyak. Usia terbilang muda, mereka bisa membiayai hidupnya sendiri atau membantu sesama. Keren nggak? Nggak semua menunduk itu identik dengan hal-hal buruk. Contohnya saat tema ini tercetus, teman sekaligus partner barcode projects saya--Winda menanyakan hal tentang tema generasi menunduk.

"Vin generasi menunduk maksudnya gimana?," tanyanya. 
Lalu saya pun menjelaskan, "ya kayak kita. Mainan hape terus sampe ada anggapan generasi menunduk."
Dengan polosnya Winda menimpali, "Ohh itu maksudnya. Okaylah. Kirain menunduk dalam hal positif."

Dari obrolan singkat di atas, kita dapat mengetahui bahwa dua hal ini bisa dilihat dengan sudut pandang yang berbeda. Kamu bisa melihat 'generasi menunduk' ini sebagai dua hal yang berbeda, positif atau negatif.

Regards,
V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pernahkan kalian mendengar ungkapan teman itu lebih dari saudara?

Saya rasa ungkapan di atas begitu akrab di telinga kita. Bukan sekadar isapan jempol semata, ungkapan tersebut begitu membumi di kehidupan. Kalian pasti sering menemui hubungan dua orang atau lebih, mereka begitu akrab dan tak terpisahkan. Padahal ya saudara bukan, adek bukan, kakak apalagi. 

Itu hanya dari sudut pandang orang lain ya. Jika dikulik lebih dalam, kamu pasti akan semakin 'manggut-manggut' dan mengamini ungkapan di atas. Saya pun mengalaminya sendiri dan ini nyata. 

foto: istimewa

Magic. 
Satu kata yang bisa menggambarkan betapa ajaibnya hubungan antarmanusia yang terjalin. Dari sebuah perkenalan biasa, saya dan orang ini bertemu dan menjalin pertemanan. Tak akan menyangka bahwa orang yang kita ajak kenalan ini bisa sedekat ini. 

foto: istimewa.

Berangkat dari sebuah sekolah menengah pertama di kawasan Wirobrajan, saya mengenal teman-teman yang kini jadi partner Barcode Project. Mereka adalah Winda dan Arista. Saya sendiri lupa, kenapa bisa kenal mereka? Apalagi menjalin hubungan hingga kini? Padahal ya, saya dan mereka sempat putus hubungan, nggak pernah ketemu, nggak pernah kontak-kontakan, grup chat aja nggak punya, lho.

Karena kesibukan masing-masing, kami pun jadi jarang bertemu. Dalam setahun mungkin bisa dihitung jumlah pertemuan kita. Buka bersama aja lebih sering wacana hehe  Sekali lagi, ini ajaib! Entah bermula dari obrolan chat, saya dan Winda kembali bertemu tepatnya saat kami sudah kuliah. Berapa tahun coba?

foto: Instagram/vindiasari
"Established since 2006. First time, we met at the junior high school. It was so long. We seldom hang out, but we were connected. Tsaaah~ She never changes. Stay humble, friendly, and the good listener. Hopefully, next time we will meet with the newest ambience. *Thank you mbok nda, finally i knew that place.* Ajakin aku jadi gahuuul ya," tulisku pada caption foto di atas. 
Ternyata usai pertemuan itu, kami kembali bersahabat.  *Lha kapan musuhan? Setelah jarang ketemu, sekalinya ketemu obrolannya masih nyambung. Masih suka hal-hal receh, baper, dan sama-sama suka psikologi dan kepribadian. Padahal ya bukan anak psikolog. Hahahha

Tak pernah menyangka, saya kembali dekat dengan krucil satu ini hingga bikin project. Kali ini saya makin sadar bahwa pertemanan yang terjalin antara saya dan Mbok Nda bukan pertemanan biasa. Saya lebih sering cerita banyak hal sama dia. Tapi bedanya, dia nggak seheboh saya kalau curhat. Orangnya masih suka memfilter huft. Apakah kamu tak mempercayaiku, Nda? 

Kalau Arista, jangan ditanya. Kalau kata Winda, "Arista sama dengan work, work, work." Dia wanita karier yang super sibuk dan punya jadwal ekstra padat dari kami. Damai ya, Ta. :D

foto: istimewa. 

"Saya telah menganggap mereka sebagai teman rasa saudara. Kata orang, pertemanan yang telah terjalin lebih dari tujuh tahun adalah persahabatan abadi."

Semasa SMA, saya juga menemui teman rasa saudara. Mereka adalah Mbak Dian dan Mei. Dua cunthel yang mewarnai masa SMA dengan hal-hal receh namun membahagiakan. Ada banyak kejadian lucu dan terkenang bersama mereka. Kalau dihitung-hitung, saya dan mereka udah temenan sekitar 8 tahun. Waaaah! Bersyukur banget punya mereka, padahal ya kita jarang ketemu. Ada yang sibuk masing-masing saat kuliah, apalagi yang di Bandung. Kita ketemu aja cuma pas dia balik ke Jogja.


Dalam menjalin pertemanan dengan dua cunthel ini, kita saling terbuka. Kalau nggak suka ya bilang nggak suka. Kalau lagi bete ya bete. Bilang jujur kalau lagi bete trus beberapa saat kemudian baikan. Marahan pun begitu, kita marahan kayak sama saudara sendiri. Kalau boleh jujur, saya malah lebih deket sama temen-temen. Entah itu masalah karier, percintaan, pertemanan, maupun masalah sama diri sendiri. 



"Saya begitu bersyukur mengenal kalian. Good friends are hard to find, harder to leave and impossible to forget."


Kamu sendiri punya teman rasa saudara nggak?

Regards,
V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kembali lagi dengan tulisan Barcode Project usai menghilang dari peredaran blog. Menarik banget tema postingan kali ini. Bahasan seputar fashion cowok yang oke versi kita.

foto: pinterest
Pada dasarnya, saya bukanlah fashion stylist bak influencer kekinian yang banyak malang melintang di media sosial. Akan tetapi, saya pribadi menyukai foto-foto instagram para influencer yang fokus pada fashion. Salah satu akun instagram influencer yang salah ikuti adalah milik Stefandy Yanata Hariono Nurul atau akrab dikenal Andy Yanata.

Bagi kamu penyuka fashion, pasti nggak asing lagi dengan nama cowok oriental Andy Yanata. Selebgram ini kerap menjadi fashion stylist beberapa brand busana. Nggak cuma itu, Andy Yanata ini dikenal dengan kelakuan kocaknya yang bikin siapa aja senyum lihatnya. Andy dikenal dengan gaya senyum yang beda dari lain. Senyum khasnya ini diberi nama Senyum Barokah.

Gaya fashion dari Andy Yanata ini bisa jadi inspirasi para cowok dalam berpenampilan lho! Lalu fashion cowok yang menarik versiku seperti apa?
foto: pinterest
Nggak ada patokan yang jelas tentang selera fashionku terhadap cowok. Pada dasarnya, saya menyukai cowok bukan dari penampilan luarnya seperti pakaian yang ia kenakan, aksesoris yang melekat di badannya, atau gaya rambutnya. Toh, bagi saya yang penting dia nyaman dengan apa yang dikenakannya. Nggak ada hal spesifik tentang fashion cowok seperti apa yang oke. Semua oke asal dianya nyaman dan pede.
foto: pinterest
Ada satu hal lagi yang menjadi penting dalam fashion cowok, yaitu kebersihan. Ya kadang kala ada cowok yang lebih suka mengenakan baju belel dan sobek-sobek. Kalau nyamannya seperti itu ya nggak apa-apa, asalkan dia wangi ya. Nggak mandi nggak apa-apa, asal wangi. Wehehehe... Nggak juga ding.

Ngomongin soal penampilan cowok, ku punya referensi buat kalian para kaum adam.
Tipsnya bisa kamu buka di sini ya!

-Padu padan warna.

-Penampilan era 90-an biar nggak fail.

-Kesalahan umum pemakaian jam tangan.


Selamat membaca ya!

Regards,
V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

There is no post for today. Sorry, we will get punishment for this.
See you again, guys!

Regards,

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



There is empty post for #56. We will get punishment for this.
See you!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai Barcode Project.

Indonesia menjadi salah satu negara mayoritas menganut agama Islam. Tak dipungkiri apabila tren busana muslim banyak berkembang di Indonesia. Terlebih kemunculan media sosial yang begitu masif mampu membuka ruang terciptanya pasar dan peluang usaha. Tren berpakaian ala muslim Indonesia ini nggak bisa disamakan dengan negara lain.

Letak geografis dan budaya yang ada di Indonesia sendiri jelas sudah berbeda. Iklim tropis yang menjadi lokasi negara Indonesia ini bisa jadi pembeda dengan yang lain. Jelas ada beragam pertimbangan cara berpakaian seperti karena kondisi cuaca.
foto: tantri namirah instagram

Panas dan gerah jadi makanan sehari-hari bagi masyarakat Indonesia. Kamu pasti bakal mengeluh kan sama cuaca dan gerahnya Indonesia. Daripada makin bete karena cuaca yang bikin nggak nyaman, ada baiknya kamu memilih bahan yang menyerap keringat dan bikin adem. Contohnya apalagi kalau bukan katun.

Nah ini ada beberapa gaya simpel seleb yang bisa kamu tiru dalam sehari-hari. Saya mengamati beberapa seleb yang ikuti instagramnya. Kamu pasti bisa menebak, saya tipe berpakaian seperti apa kalau lihat akun-akun berikut ini yang saya ikuti.

Udah yuk intip foto-foto gaya simpel seleb dihimpun dari instagram yang bersangkutan pada Jumat (18/8).

1. Gita Savitri Devi.
foto: gitasav instagram


2. Ayudia Bing Slamet.
foto: ayudiac instagram.


3. Tantri Namirah.
foto: tantri namirah instagram.



4. Nina Zatulini dan Natasha Rizky.


Hidup di wilayah tropis seperti Indonesia ini memang wajib banget memerhatikan pakaian. Namun yang terpenting, pastikan kamu nyaman. Jangan mengikuti tren yang ada, tapi jatuhnya nggak banget! 

Dari unggahan di atas merupakan beberapa contoh simpel gaya berbusana sehari-hari dari seleb. Bayangin, mereka ada yang udah jadi ibu dua anak tapi nggak keliatan kan?

Gaya simpel hijabnya juga cocok banget buat siapa aja, mulai dari anak SMP hingga anak kantoran. Itu aja yang bisa aku berikan review tren hijab muslim saat ini. Maaf kalau jatuhnya sotoy hehe

Regards,

V

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Pada akhir pekan lalu, saya membeli sebuah buku berjudul ‘Generasi Langgas: Milennials Indonesia’. Sudah sejak lama saya ingin membacanya, namun baru kesampaian kemarin. Ada yang menarik dari topik bahasan Barcode Project kali ini. 

Saya nggak akan membahas buku terlalu jauh, melainkan akan menghubungkan dan mencocokan apa yang saya baca dengan tema barcode bertajuk ‘Society’. Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai muncul dan maraknya deman K-Pop. 

Demam K-Pop ini sebenarnya sudah ada sejak lama akan tetapi saya tidak bisa memastikan kapan pertama kali muncul. Namun demikian, menurut salah satu teman yang juga seorag K-Popers (sebutan pecinta budaya, Idol dari Negeri Ginseng) menyebutkan Drama Korea mulai masuk di Indonesia saat saya masih SMP. Jika ditarik ke belakang, saya SMP sekitar tahun 2009. 

foto: soompi
Dia bercerita, kemunculan para penggemar Korea yang semasif ini karena ada momen. Dia mengklaim Drama Korea yang ditayangkan di sebuah televisi swasta biasa disetel pada malam hari atau menjelang dini hari (Saya lupa obrolannya, maaf kalau kurang tepat). Jadi karena penanyangan drama tersebut memengaruhi penonton alias nggak banyak yang nonton. Begitu kata salah seorang temanku. 

Dari cerita tersebut, saya mulai membayangkan ada benarnya juga. Namun di sisi lain, jumlah para penggemar K-Pop ini semakin bertambah karena beberapa faktor. Salah satu faktornya yaitu adanya kemudahan akses informasi mengenai K-Pop. Kita tahu para penggemar K-Pop menjadi tahu tentang K-Pop lewat media-media informasi. Salah satu yang berperan adalah melalui internet. 

Bayangkan saja, kita orang Indonesia bisa mengetahui hal yang jauh dari mana kalau bukan internet, buku, dan media konvensional lainnnya. Ngomongin soal demam K-Pop, pasti nggak bisa dilepaskan dari anak muda. Dilansir dari buku Generasi Langgas: Milennials Indonesia disebutkan anak muda Indonesia sekarang ini tergolong sebagai generasi milennials. 

Generasi milennials ini disebut sebagai generasi yang tumbuh berkembang bersama kemajuan teknologi. Dikutip dari buku karya Yoris Sebastian disebutkan bahwa generasi milennials atau dalam buku menggunakan kata generasi langgas sebagai generasi yang berbeda dari generasi lainnya. Nah dalam buku disebutkan beberapa ciri seperti instant generation, efficient, to many choices, love learning, information overload, tech savvy, multi tasker, dan lain-lain.

Membaca beberapa ciri generasi langgas, saya mulai menemukan titik kesaman mengenai bagaimana para generasi langgas dalam menjadi penggemar? 

Ketika mengidolakan seseorang, generasi langgas akan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang sang idola. Mereka memiliki banyak cara untuk memerolehnya. Bukan jadi hal tabu, kalau para K-Popers punya sumber-sumber terpercaya untuk memperbarui aktivitas sang idola. Hidup di era internet ini, kamu pasti termasuk orang yang banjir akan informasi. Coba deh kamu ketik satu kata kunci di google, pasti akan ada ribuan informasi. 

foto: pexels
Penggunaan internet dan gawai untuk mencari informasi sang idola menunjukkan fans adalah orang yang tech savvy alias nggak gaptek. Bukan hanya itu, generasi langgas dalam mengidolakan seseroang akan menjadi pribadi yang efisien. Mereka sudah tahu cara terbaik yang sesuai kantong pribadi. Contohnya ketika ada album atau konser atau karya terbaru dari sang idola. Mereka masih memiliki batas kewajaran. Sefanatik sama sang idola, kasarannya mereka tahu diri hehe. 

Kalau mampunya nonton lewat YouTube, mereka akan memilih menyaksikan lewat YouTube. Akan tetapi jika mereka berniat nonton secara langsung, merekaakan putar otak untuk mewujudkan harapannya. Bisa jadi mereka nabung, bikin usaha, atau kepepetnya minta orangtua. Mereka adalah orang yang punya rasa ingin tahu besar, suka belajar, tapi ya kadang pengennya yang instan. Hehe

Menurutku kemunculan demam K-Pop itu hal yang wajar dan lumrah ada di tengah era informasi ini. Saya yang nggak begitu mengidolakan seleb Korea malah senang mendengar obrolan teman tentang idolanya Saya jadi tahu iniloh ada seleb yang begini, karyanya begitu, budaya Korea tuh aslinya gini, dan sebagainya. 

Terima kasih sudah membaca, kalian sependapat atau punya pendapat lain? Bisa banget japri saya atau komen di bawah ini. 

See you next post!
Regards,

V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 Obrolan yang kerap muncul di tengah pertemanan adalah mengenai keluarga. Pasti kamu pernah menerima pertanyaan kamu anak ke berapa? Punya saudara berapa?

Nggak dipungkiri, pertanyaan tersebut menjadi 'pertanyaan umum' yang bisa jadi bahan obrolan. Bisa jadi karena kehabisan pertanyaan atau beneran penasaran. Hehe

Barcode project kali ini mengusung tema friend and family. Topik hari ini berkaitan dengan pertanyaan umum di atas.

Kamu anak ke berapa di keluargamu?

Berdasarkan pengalaman pribadi. Saya selalu membalikkan pertanyaan mengenai saya anak ke berapa dan punya saudara berapa?
"Menurutmu, aku anak ke berapa?," tanyaku balik sembari memberikan senyuman.


Nah dari pengalaman tersebut ada beragam jawaban berdasarkan perspektif masing-masing. 
Karena sejak TK hingga SD, saya satu sekolah dengan kakak. Maka banyak dari orang yang mengenal saya sebagai seseorang adik. Jelas dengan demikian, saya adalah bukan anak pertama. 

Sementara SMP, saya dikenal sebagai seorang yang punya kakak dan adik. Pasalnya setiap hari saya selalu nebeng kakak sampai sekolahnya. Lalu saya berhenti di pinggir jalan dan menunggu bus datang. Akan tetapi, saya kadang diantar oleh mama ke sekolah bersama adik. 
Jadi jelas sekali bahwa saya bukan anak bungsu.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mengembangkan diri dengan berbagai kegiatan. Saya pun mulai lepas dari keterikatan dengan keluarga. Mulai menjadi seorang 'individual' yang memang punya kesibukan masing-masing. 

Berkembang menjadi pribadi, banyak orang mulai mengenal secara umum. Sementara ada pula yang mulai dekat secara personal. Lalu menanyakan hal-hal seputar diri. Apapun mulai dari hobi, kebiasaan, makanan kesukaan, dan tentunya keluarga.

Semakin ke sini, saya mulai banyak mendapat pertanyaan umum dengan jawaban yang mulai seragam. Banyak orang menilaiku sebagai anak terakhir di keluarga. Wow kenapa ya? 

Jawabanmu berujung pada, "mungkin karena mulu nggak boros."

"Mungkin karena kamu imut."

Itulah jawaban yang sering sana terima dengan usia yang semakin bertambah.

Alhamdulillah sih kalau dibilang imut dan awet muda. Terima kasih Tuhan 😂😬😇😇😇😇
Namun saya pribadi bukan tipe orang yang mudah percaya dengan omongan yang cenderung memuji.
Saya justru berpikir, "apakah saya terlihat manja dan nggak dewasa sehingga banyak yang mengira--saya anak bungsu?"

Tolong jawab jujur, apakah aku terlihat nggak dewasa atau kekanak-kanakan?

Tulisan ini bukan berarti mengklaim bahwa anak terakhir adalah anak manja dan kekanak-kanakan. Nyatanya, banyak di luar sana, anak bungsu justru lebih dewasa dari kakaknya. Angka sekadar angka dan urutan. Sementara kamu pribadi adalah hal utama. Mau kamu anak pertama, kedua, keriga, kesekian. Kamu tetaplah kamu dengan pribadi yang unik. 

Kamulah yang utama ♥️❤️❤️❤️❤️💃💃

Dari panjangnya tulisan di atas, saya sendiri belum menjawab pertanyaan kamu anak ke berapa? Maaf yaaah!
Saya adalah anak kedua daru beberapa saudara. Kalau dijulukan Jawa, sebutannya gotong mayit. 😂 

See you soon❤️
Regards, 
V


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Baru-baru ini mencuat video yang menunjukkan adanya aksi perundungan atau biasa disebut dengan bullying. Kasus yang paling menjadi buah bibir, pertama kasus mahasiswa Gunadarm* dan kasus anak SMP di Thamrin City. Dua video tersebut menjadi viral lantaran sebuah akun bibir mengunggahnya.

Saya pribadi sudah nonton kedua video tersebut dan membatin, "ih apa banget sih ini anak?" Sementara itu, saya juga sok-sokan menjadi pengamat komentar. Tak sedikit para komentator alias netizen yang ikut bersimpati dengan si korban. Sementara itu, ada pula yang mengutuki para pelaku dengan kata-kata yang nggak kalah sadis.

foto: statisticbrain.com

Sebentar deh! Tunggu dulu!

Ini kan kasus perundungan di mana ada pelaku dan korban. Tindakan ini adalah tindakan tak terpuji yang selayaknya nggak dilakukan atau dihindari. Tapi dengan hadirnya komentar sadis yang mengutuki para pelaku? Lha apa bedanya komentator dan pelaku perundungan?

Di saat yang sama, saya menemukan kutipan menarik yang menanggapi adanya kasus perundungan. Kasus tersebut bukanlah hal baru, melainkan cerita lama yang (maaf selalu) terulang. Ngeri nggak sih? Namun demikian, mari kita belajar bersama-sama dalam menyikapi perundungan ini. Salah satu yang bisa menjadi refleksi kita semua adalah cuitan dari Najelaa Shihab. Beliau adalah pemerhati dunia anak dan pendidikan. Pertama kali saya mengenal lewat laman Youtube Semua Murid Semua Guru. 

foto: twitter Najelaa Shihab.

Berikut cuitan Najelaa terkait perundungan,
"Menangani perundungan adalah soal pencegahan dan pembiasaan bukan semata penindakan dan hukuman. Kasus "baru" yang hebih di media sosial jangan sampai menjadi cerita "lama". Sekadar peringatan sesaat yang diwarnai keprihatinan tapi tidak menggerak perubahan penanganan dan kebijakan."


Kasus ini nggak akan selesai dengan hukuman dan penindakan paska kejadian. Ada hal yang seharusnya kita semua lakukan seperti melakukan pencegahan dan pembiasaan. Poin penting yang ditegaskan Najelaa adalah Peduli bullying yang salah kaprah. Melabel korban, menyalahkan pelaku dan membiarkan saksi.

Kamu bisa baca tulisan lengkap Najelaa Shihab di sini. Yuk kita sama-sama bijak menyikapi perundungan yang ada!

Regards,

V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
foto: istimewa

Dapur bukan lagi hanya dikuasai oleh cewek. Sekarang ini para cowok bisa pun bisa dengan lihai menguasai alat dan bahan dapur. Kalau kamu lihat tayangan televisi pasti kebanyakan yang jadi seorang koki atau chef adalah cowok!

Bukan hal yang mengherankan apabila cowok jago masak. Nggak sedikit pula yang melekatkan julukan cowok seksi bagi si pecinta masak. Nggak percaya? Kamu bisa buka link berikut ini. Ada 12 alasan cowok hobi masak itu seksi. Hehe

Ngomongin jago masak, ternyata dari kalangan selebriti ada seleb ganteng yang jago masak. Kamu pasti nggak akan menyangka bahwa cowok tersebut sem-pur-na! Udah ganteng, jago masak lagi. Hmm Beberapa waktu lalu, saya pernah nulis artikel tentang seleb yang jago masak. Kamu bisa buka linknya di sini.

Ngomongin masak dan cowok. Jika melihat di lingkunganku, mereka cenderung masak ala kadarnya. Contohnya adalah papaku. Dia nggak jago masak, tapi sesekali dia rela turun ke dapur dan memasak dengan bahan yang ada. Sering kali saya malah heran sekaligus kagum dengan kepiawaian papa. Apa aja bisa jadi makanan. Soal rasa? Ya kadang enak, kadang ya begitulah. Hahaha..

Sementara di lingkungan pertemanan, saya menemukan teman yang 'bisa masak' ketika masa KKN. Dua bulan hidup bersama, tentu kegiatan yang dilakukan pun selalu bersama. Kebetulan, ada beberapa teman cowok yang suka bantuan anak cewek saat masak. Ada yang jago nguleg, ada yang jago bikin sambel. Temen-temen KKN sampe ketagihan dengan sambel buatannya. Haha 

Piawai menguleg dan mengolah cabai menjadi sambel emang juara. Tapi anggapan cowok masak itu seksi begitu subjektif. Nggak semua cowok bisa seksi hanya karena masak. Hehe Tapi cukup diacungi jempol untuk keahlian alamiahnya. Cewek aja ada yang nggak bisa masak, kalau cowok bisa masak bisa jadi nilai plus kan?

Regards,

V



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar




Akhirnya Barcode Project telah berjalan tiga bulan. Ibarat hubungan percintaan, tiga bulan pertama adalah sebuah hal yang sulit. Namun akhirnya, kami bisa melewatinya. Bermula dari ide dua orang, kini kami bertiga. Tertambah seorang personel bernama Arista. Kami bertiga merupakan teman dari bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sama-sama memiliki hobi membaca dan menulis. Sempat berpisah dan tak ada kabar, kami akhirnya kembali bersama dan keep in touch. Akhirnya tercetus ide ini!

Minggu (4/6), Vindi dan Winda mengadakan sebuah pertemuan kecil untuk evaluasi. Karena sebuah alasan, Arista berhalangan hadir. Pertemuan kali ini, kami membahas mengenai jalannya proyek. Hal-hal yang dibahas meliputi evaluasi tulisan, tema, denda, dan misi ke depan. 

Semoga bisa menjadi hal-hal baik akan selalu melingkupi kita semua. 

Regards,




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Spotify adalah sebuah aplikasi yang pastinya nggak asing lagi di telinga kalian. Bagi kamu si pecinta musik, pasti nggak akan melewatkan untuk menjajal aplikasi musik Spotify. Kali ini saya akan mereview apps penyetel musik yang komplet.

Lebih dari 6 bulan, saya sebagai pengguna Spotify. Berawal dari rasa penasaran tentang seperti apasih Spotify? Handphone apalagi smartphone kan sudah punya fasilitas musik player, lalu kenapa ada Spotify? Berangkat dari rasa penasaran tersebut, saya pun mengunduhnya di Play Store.

Pada saat pertama mengunduh, saya tidak ingat prosedurnya seperti apa. Tapi sepertinya harus login dengan email atau menggunakan media sosial seperti facebook dan lain-lain. Saya memilih menggunakan facebook karena yang cepet (lansung ter-direct ke akun facebook). Saat itu pula, saya mendapatkan free trial premium di mana saya dapat fasilitas premium ala Spotify.

Sekali membuka apps, ada beragam artis, playlist, maupun lagu yang tersedia. Kamu bisa memilihnya sesuai selera, bisa dipilah berdasarkan genre, penyanyi, lagu, album, dan lain-lain. Menurut saya, hal tersebut memudahkan pengguna untuk memilah lagu sesuka hati. Sementara itu, kesempatan mendapat fasilitas trial premium tentu tak dilewatkan. Tentu berbeda dengan fasilitas free.

Hal yang membedakan antara free dan premium adalah pertama, free tidak menggunakan biaya fan premium menggunakan biaya. Kedua, free masih terbatas menyetel lagunya. Sementara premium sesuka hati. Ketiga, free masih ada iklan tiap beberapa kali putar lagu. Sedangkan free, bebas iklan. Dengerin lagu makin oke tanpa hambatan. Keempat, free nggak bisa rewind atau back. Sedangkan premium bisa-bisa aja. Kelima, free hanya untuk pendengar tanpa bisa mendownload lagu. Fasilitas premium jelas bisa download lagu sepuasnya sampai memori hape penuh. (Pengalaman hehe).

Anyway, spotify itu mirip seperti musik player. Hanya saja, lagu yang ada selalu mengikuti perkembangan alias up to date. Ibarat kata, Spotify itu toko kaset modern. Mengapa demikian? Pasalnya, hampir sebagian besar lagu yang ada di spotify belum tentu ada bentuk fisiknya alias lagu digital.

Kadang kala, kamu pasti kesulitan mencari lagu terutama indie di pasaran. Namun demikian, di spotify hampir semua ada. Apalagi ada playlist berjudul IndieNesia. Sebuah wadah list lagu-lagu dari penyanyi maupun band indie yang sayang untuk dilewatkan.

Awalnya saya hanya pengguna free yang ketagihan nyetel musik pakai spotify. Ketagihan karena Spotify menawarkan lagu-lagu update yang enak didengarkan ketika bekerja. Singkat cerita, saya pun mendownload Spotify PC di komputer kantor. Hampir setiap kerja, Spotify menemaniku hingga saat ini.

Spotify memang apps yang bagus. Pasalnya semua lagu yang ada di sana jelas resmi dan legal. Saya pun mulai mengurangi unduh lagu dengan keyword free download mp3 lagu bla bla bla. Sebut saja, saya mencoba melawan pembajakan. Hehe

Sejak nyaman dengan free trial, salah satu temanku menawariku Spotify Premium.  Karena tertarik fasilitas bisa download lagu dan bebas iklan, saya pun setuju untuk menjadikan Spotify free menjadi premium. Kebetulan, temanku menawari paket 'family' di mana harganya lebih murah. Selama tiga bulan, saya hanya membayar 50 ribu.

Sudah memasuki angka 3 bulanan, saya menggunakan Spotify Premium. Saya pun merasa nyaman dan senang memiliki Spotify premium. Mulai tanggal 1 Juni kemarin, saya baru saja memperpanjang Spotify Premium ke teman.

Saat ini saya merasa senang karena Spotify tak menecewakan. Selalu memberikan fasilitas oke dan mumpuni. Jeleknya cuma satu, memori hape saya nggak begitu banyak. Jadi lagu-lagu favorit nggak semua tertampung di HP.

Oke segitu dulu ya tulisan Spotifyku. Terima kasih sudah membaca! Saya nulis ini dari pukul 23.00 sekoan hingga 23.45. Deadliner coy! Seenggaknya nggak denda hehe. Thankyou gaes!

Regards,

V

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Marhaban ya Ramadan.

Actually, im happy. Ramadan will happen tommorow. So excited! Finally i can embrace ramadan again in this year. Thanks God, im blessed.

Before ramadan, in my family has tradition. Its called ziarah,nyekar, or visiting the grave. One week before, ramadan. I and my family visit to our family urns. I saw many ranks of cemetery. On the grave, its not my family. There are many family doing nyekar.

Foto: pixabay


My father brought some flower for sowing above the grave. First time we visited, we walked to my grandmother and grandfather from my father. Yes, my father is orphan. He is hasnt father and mother. I didnt brave to see his face. Because of my heart is crying. I cant realize, how is strong he is. He grew up without mom and dad. Now, i thought how is pityful my dad. He confronts reality by his self. He is independent, strong, hard working, and many more. I cant imagine what im in that situation. I have compelety parents, mom and dad. I didnt know, if my grow without them.

At the grave, im trying hard to hold back crying. Indonesian say mbrambangi. Hiks...
My dad said, "this is your grandfather grave's and there is grandmother grave's."
I just staring the stone that so old. After that, i prayed Al Fatihah and said on my heart something words.

Foto: pinterest


 Thanks God for all give and Your bless.Ziarah can remind me to be grateful with my life

Now, im crying.....

Regards

V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Hai laki-laki yang akan jadi pendamping hidupku,

Jangan serius baca tulisan ini ya. Ini hanya sebuah 'kewajiban' ku memenuhi jadwal projek yang sedang aku jalani sekarang.

Pengennya nulis romantis ala ala orang jatuh cinta. Tapi sebaiknya disimpan untuk pertemuan kita--saat hanya berdua.

Kita adalah dua insan yang berbeda. Aku terbentuk dengan proses demikian, sementara saat bersamaan kamu pun berproses. Hasilnya, kamu sekarang ini membaca tulisanku dalam blog. Kita tahu perbedaan antara kita jelas ada, tapi pada akhirnya kamu membuatnya menjadi unik. Tentu hal itu terjadi karena ada andilku, Andil kita berdua. Kita saling meluluhkan ego yang ada hingga memutuskan jadi 'kita'.

Jujur, saat ini aku sedang gelisah dengan sosokmu. Aku nggak tahu kamu siapa? Namun sudah pasti bahwa kamu adalah orang yang tepat. Tepat menerima keadaanku sedemikian rupa. Aku nggak sempurna jelas, apalagi kamu. Semua ketidaksempurnaan ini bermuara seperti kutipan lirik dari The Chainsmokers dan Coldplay, "im not looking for somebody with some superhuman gifts." Aku butuhnya kamu.



Kamu yang menemani setiap momen dalam hidupku.



Momen pernikahanku, kamu bersanding bersamaku. Mengengam tanganku kuat seolah mau nyebrang di jalanan yang ramai. 

Momen menanti hingga membesarkan buah hati bersama.


Hingga rambut memutih atau maut memisahkan.



Percayalah, aku selalu merindukanmu baik dari aku yang sekarang, hingga aku di masa mendatang.

Regards,

V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
"Kosongkanlah gelasmu di setiap kesempatan. Maka kamu akan kaya dengan ilmu dan pengetahuan baru."

Kalimat tersebut sering saya dengar dari orang-orang penting ketika masih kuliah. Meskipun tak sama persis, tapi intinya demikian. Saya ingin berbagi dengan kalian semua tentang filosofi ungkapan di atas. Hal tersebut bukan sebuah kebetulan, melainkan begitu dekat dengan keseharian saya dan kalian.

Jujur, dua minggu terakhir adalah waktu yang berat bagi saya. Mengapa? Saya dipindah tugaskan ke bagian lain-yang sebenarnya jauh dari apa yang dibayangkan. Sebelumnya, saya menjadi seorang reporter sekaligus content writer pada tema tertentu. Sudah hampir 7 bulan saya bekerja. Angka yang menurut teman kantor, belum dapat cuti. Hehe

Tujuh bulan bukan waktu yang singkat, namun tak tepat dikatakan lama. Selama tujuh bulan itu pula, saya berkutat dengan naik turunnya kebimbangan hati. Ada banyak ''masalah" dan "konflik" yang terjadi. Namun akhirnya, saya mencoba menenangkan diri dan meyakinkan bahwa "masak segitu aja nyerah?"
"Kamu bisa kok, Vin. Anggap aja nerima pengalaman baru."
... dan banyak perdebatan lainnya.

Puncak segala perdebatan adalah pada dua minggu lalu. Saya dipindahkan ke bagian lain. Rasa dalam benak pun campur aduk. Kecewa, sedih, takut, gelisah, sebel, pengen marah semua jadi satu. Tak heran apabila ada perasaan ingin menyerah hari itu juga. Saya mencoba menyimpannya dan mengabaikan perasaan yang ada. Namun akhirnya, saya nggak sanggup dan memutuskan untuk ke kamar mandi-menenangkan diri. Hiks

Saya kecewa, karena ketidakjelasan alasan. Saya nggak menemukan jawaban yang puas atau pemindahan. Saya sedih karena saya sedang merasa nyaman dengan bagian saya. Saya takut dan gelisah dengan pemindahan ini. Apakah karena kinerja yang kurang maksimal? Atau seperti apa? Mereka menjawab, "kinerjamu bagus kok." Tapi mengapa di pindah? Sampai sekarang saya nggak dapat menemukan jawaban yang mengena. Hiks Sebel dan pengen marah rasanya. Hmm mungkin lagi PMS aja, apalagi perut udah mulai mules saat itu.

Pada akhirnya, kesedihan dan kekecewaan itu coba dilarungkan. Sembari menyakinkan diri dan membangun benteng. "Nggak apa-apa sih. Itung-itung belajar hal baru."

Memang saya mengakui, pemindahan tersebut ada hal positifnya. Saya jadi makin 'kaya' dengan hal baru. Akan tetapi, cap yang melekat pada pekerjaan baru ini cukup menantang. Membuat saya minder dan cukup tertekan. Saya merasa di bawah tekanan dan cenderung kepikiran. Dua minggu awal menjadi buktinya. Setiap akan berangkat kerja, saya malas-malasan. Rasanya capek padahal belum kerja. 

Tak hanya itu, selepas pulang kerja atau saat jam kerja. Saya kerap merasa tak napsu makan padahal lapar. Saya kerap migrain dan pusing nggak keruan. Hiks. Pada titik ini pula, saya ingin menyerah. Tapi sekali lagi, " Nggak apa-apa sih. Itung-itung belajar hal baru. Kamu bisa, Vin."

Nggak sekadar pesan positif saja yang ditanamkan pada diri. Namun juga beberapa pengalaman sebelumnya. Salah satunya mengenai kutipan berikut ini.

"Kosongkanlah gelasmu di setiap kesempatan. Maka kamu akan kaya dengan ilmu dan pengetahuan baru."

Yah, saya mencoba mengosongkan diri saya. Saya sedang mengisinya dengan hal-hal baru (pekerjaan baru saya). Lalu berproses dengan waktu. Perlahan, saya akan makin banyak ilmu.  Lantas ingatlah! Ilmu itu lebih berharga. Jadi saya dan kalian yang sedang berada di titik rendah atau terpuruk, jangan menyerah. Anggap ini sebagai sebuah proses atau pembelajaran hidup. Kamu nggak akan rugi kok, kamu malah makin kaya akan pengalaman. Pengalaman itu pun akan membentukmu menjadi lebih baik. 

Cheers! 😇
Regards

V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Belantika musik Tanah Air, baru-baru ini kehadiran penyanyi solo ganteng yang bikin hati berdesir. Deretan nama seperti Rendy Pandugo, Jaz cukup memikat telinga. Hati pun ikut terjerat dengan suara emas mereka. Aw aw..

Siang adalah kata yang paling enggan ia ucapkan. Entah sejak kapan, laki-laki berambut gondrong ini membenci siang hari. Ia lebih memilih bangun ketika matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Ia pun menghindari bepergian pada siang hari. Namun demikian, segala upayanya menghindari siang hari harus terpatahkan oleh seorang gadis.

Gadis bernama Irna mampu memikat perasaannya. Segala pertahanan dan upayanya untuk menghindari siang kandas begitu saja. Kini ia mulai mencintai siang dan Irna. Laki-laki berambut gondrong ini pun sedang berdiri di sebuah lapangan bola. Ia tampak sendirian di tengah keramaian. Sesekali ia melihat jam di tangannya, kemudian melihat sekeliling. Ia seolah sedang menunggu kehadiran seseorang. Tak berselang lama, sosok yang ia tunggu datang.

Perempuan berambut panjang datang dengan menggenakan kemeja flanelnya. Senyum ceria pun terpancar dari bibir keduanya.

"Aku di sini padamu, sekali lagi padamu. Ku bawa rindu yang kau pesan utuh."

Laki-laki gondrong dan Irna adalah dua insan muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama karena sebuah acara. Bermula dari ketidak sengajaan bertemu, mereka saling dikenalkan oleh teman masing-masing. Obrolan singkat pun sempat terbesit dari keduanya. Dari secuil obrolan tersebut, keduanya pun saling mengagumi hingga berakhir pada tukar nomor HP. Sampailah pada pertemuan di lapangan bola ini.


"Pun aku merasakan getaranmu, mencintaiku seperti ku mencintaimu. Sungguh kasmaran aku kepadamu,  kasmaranku kepadamu."

Dua insan ini pun mulai menjalin hubungan pacaran. Saling jatuh cinta dan kasmaran :)



Regards,
V



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Mengenai Saya

Barcode Projects
Lihat profil lengkapku

About me

Barcode Projects adalah sebuah proyek menulis yang diinisiasi oleh dua perempuan sok struggle dan tukang baper. Perempuan yang dimaksud adalah Ferizka Winda dan Vindiasari Putri.

Barcode Projects sendiri memiliki kepanjangan 'Barengan corat-coret'. Barcode Projects ini dijadikan wadah menulis dan berbagi cerita.

Labels

  • 1
  • 10
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • A
  • Barcodeprojects
  • Bebas
  • Cinta
  • Cowok
  • Evaluasi
  • F
  • Family
  • First Experience
  • Friend
  • Lagu
  • Review
  • Society
  • V

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2017 (95)
    • ▼  November (1)
      • #69, 70, 71, 72, 73, 74,75, 76, 77, 78
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (14)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (10)
    • ►  Maret (15)
    • ►  Februari (9)

Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates