Barcode Project

Barengan Corat-Coret Ide

Barcode Projects

  • Home
  • Penulis
Hi, guys!

First, I'd like to say sorry because I forgot to update last friday. Actually, I was excited to write a review about food, cafe, or restaurant. But last friday was very hectic day for me. Tapi tenang, kita tetep menepati janji kita untuk bayar dendanya, hehe Dan sekaligus ngingetin kalo denda itu bakal pakai buat charity event atau semacamnya. 

So today, we're going to talk about male. A Man who's able to play music instrument has a plus point in my point of view. Honestly, I can't play any music instrument, except recorder. So, I always amaze every time I see a boy or man who plays a music instrument. I just love to listen any kind of genre music, but I often listen to pop or jazz music.

And my favorites are pianist and guitarist. 

Photo: Pinterest

If you ask me the reason why I choose pianist and guitarist, I'll answer I don't know why. 
I always amaze when seeing a man plays piano or guitar. Like, my heart is beating faster than usual. I also dreamt that there will be a man who plays piano only for me, teaches me how to play piano or guitar, and sings along with me. When he is playing piano or guitar, he looks serious, but at the same the time he looks cool, charismatic, warm, and gentle.

Yiruma is my favorite pianist. I love his songs, the titles are Kiss The Rain and River Flows in You. If you are curious about his songs, just check it on youtube. 

Yiruma's photo: amazonaws.com

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai! Akhirnya berjumpa kembali :)

Im sorry for the missing writing before. But today, i'll write again! After a long discuss with Winda. Finally, we got a specific theme for this Tuesday! Today, we will discussion about boy. Because of the boy is very large theme, so we decided to choose musician boy. We decided to talk about what is your favorite player musician? 

So lets talk :)

foto: pexels.
Sometimes, im interested with music. All about music. I cant judge-i love this and i didnt love that. Nggak bisa. Finally, my ears always accustomed to all genre. Dangdut oke, jazz oke, pop isn't problem. Haha But, if we have to choose one,. I will choose folk and pop : D

Back to topic.

what is your favorite player musician? 

So i'll choose guitar player.

Why?

I dont have any reason to answer this question. But a long long time ago, setdah..  Someone who i admired, he loves music. He became a giutar player in his band. I remember, when we met. He plays accoustic guitar and i can enjoy with his guitar! So lovable! :)

foto: pexels.


"Aaaaak masnya, aaaak :)," my heart said. I miss his guitar and peform!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai Barcodessssss! *mutusi pakai nama barcodes*

foto: dokumen pribadi. 

Pada tulisan ketujuh kali ini seharusnya mengambil tema tentang review. Hanya saja, si Vindiasari dan Winda sedang soksibuk ddengan urusan masing-masing.

Sesuai konsekuensi, dua punggawa barcode projects siap membayar hukuman alias denda.

Terima kasih
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Yeay, udah minggu keenam dan alhamdulillah bisa lanjut ke tema-tema berikutnya. J

Yups, seperti yang udah Vindi bilang di-posting-an sebelumnya, kalau tema kali ini tentang society. Tulisan ini pure opini aku dan nggak ada maksud buat sok tahu, nyakitin, nyinggung atau apapun itu. Aku juga lagi berusaha buat melihat dan menulis yang objective. Karena yang subjective kadang suka pake hati haha *abaikan*

Dan di jaman yang serba modern ini, tentu kita udah nggak asing lagi dong sama social media. Dan yang lagi naik-naiknya adalah hal yang kemudian menjadi viral di social media  dan beberapa mulai menjadi isu nasional gitu.
Foto: www.similarweb.com

Kayak twit yang ditulis sama Ernest, salah satu komika yang kiprahnya kita tahu bukan cuma di stand-up comedy aja, tapi juga buku dan film. Kenapa aku kasih contoh tentang Ernest, ya karena aku sama Vindi udah sepakat untuk kasih opini kita di lingkup itu.

Social media sekarang udah kayak makanan sehari-hari buat beberapa orang. Kenapa aku bilang beberapa orang, yak karena ada yang menjadi addict sama medsos, ada yang biasa-biasa aja, dan bahkan ada yang nggak menggunakan medsos. Pagi, siang, malam seperti nggak pernah sepi. Media sosial yang awalnya sebagai wadah untuk berkomunikasi tak langsung bagi manusia modern kini sudah bertambah fungsi menjadi diary, wadah pamer, tempat jualan, album online, modus penipuan, dan masih banyak lagi. Tentunya ada hal positif yang bisa diambil dari penggunaan media social, tapi banyak juga hal negative yang kerap muncul.

Dari apa yang aku lihat dan aku rasain sih, kayak sekarang tuh jadi lebih gampang terprovokasi dari media social. Gampang adu domba, gampang sebar hoax, gampang men-judge, dan malah media social kayak jadi racun. Beberapa media news, ada yang mereka memberitakan melalui online hal yang faktanya belum akurat dan hanya mengejar rating dan sebagainya. Aku jadi yang mau baca berita jadi juga mikir, itu media berita bisa dipercaya gak sih, aktual apa enggak. 

Selain itu, kayak tentang Ernest, Uus, atau yang lainnya yang jadi viral, okay, setiap orang memang punya hak buat berpendapat. And we have to respect their opinion. Tapi kita juga sebagai pengguna media social juga harus tahu kapasitas media social itu untuk apa dan bijaksana juga untuk menggunakannya. Mungkin juga mereka yang well-known di media social juga harus sadar, kalau ketika mereka bertindak ada banyak orang yang menjadi fansnya mungkin akan mengikuti. Okay, nggak semuanya jelek, cuma untuk kita bisa jadi negara yang maju kita juga berperan dalam hal edukasi. Karena anak kecil itu akan meniru hal yang mereka lihat, dan masa pubertas adalah masa dimana mereka mencari jati diri mereka. Baiknya, mereka juga bisa bijaksana dalam bertindak maupun berkata kalau-kalau nanti mereka dijadikan panutan. Tugas mengedukasi dan mengubah bangsa kita bukan cuma tugas orang tua, guru, pahlawan, ataupun pejabat, tapi kita semua. (Yang ini maksud aku bukan ke masalah Ernest aja tapi juga ke artis atau seleb-seleb media social lainnya.)

Kita bisa sharing, bisa beropini, karena kita punya hak berpendapat sebagai masyarakat di negara kita yang demokratis ini. Tapi tentu ada etikanya. Secara, kalo kita ketemu orang dan mau berargumen secara langsung ada etikanya, tentu yang melalui media nggak langsung juga kudu ada etikanya dong. Karena kadang yang lewat social media itu suka ambigu dan bikin miscom atau salah paham. Hal itu bukan cuma buat mereka yang mau beropini, tapi juga yang ngommentari. Yang aku lihat kalo orang-orang ngomentari suka pada kelewat batas, kayak perkataan yang dipake. Kadang mereka mengomentari si A nggak punya etika, tapi cara mereka mengomentari juga kadang nggak beretika.


Sebenernya balik lagi ke kita sih yang mau lihat itu dari satu sisi aja, mau jadi komentator aja-kah, atau yang mau langsung judge tanpa cari info lebih atau yang mau mencoba menempatkan atau melihat dari sisi yang dikomentari. Nggak ada orang di dunia ini yang bisa bener-bener satu paham. Pasangan aja nyatuin dua kepala belum tentu bisa klop 100%, mereka yang kembar aja belum tentu pilihannya sama, apalagi kita yang berbeda-beda ini. 

"Respect to each other for your own peace, not for others. Be wise when you are using social media. Your attitude shows the true of you. -- FW" 

Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Yeeeeeeeeeay sudah masuk tulisan ke-6 !!!

Kali ini saya dan Winda mau bahas yang lagi hangat nih! Kayak nasi yang baru matang dari rice cooker. Ngebul gitu~

Tema kali ini adalah tentang society. Sekadar informasi pembuka untuk kalian nih, society ini dibuat memang untuk menulis tentang pendapat saya dan Winda dalam memandang sebuah isu yang ada di masyarakat. Isunya apapun, asal kami berdua paham dan ngikutin bareng-bareng. Hehe

foto: thedigitalmarketingboss.com
Isu yang dipilih kali ini adalah tentang berpendapat di media sosial. Latar belakang kami mengambil isu ini karena sedang ada kabar salah satu komika Tanah Air, Ernest Prakasa yang sedang hangat dibicarakan. Ernest mendapat banyak hujatan dari netizen karena twit-nya. Kamu bisa baca di link berikut ini.Berawal dari kasus tersebut, kami pun mengambil tema tentang,

"Social media itu kalau menurut kita buat apa? Lalu menurut kita, idealnya sosial media itu untuk apa?

Sebagai negara demokratis yang menjunjung tinggi musyawarah mufakat, mari kita mulai beropini. :)

Kalau saya pribadi, saya mengapresiasi pendapat dari siapa saja yang telah menyampaikan aspirasinya melalui media sosial, termasuk para seleb. Bolehlah mereka berpendapat melalui akun media sosial masing-masing. Tentunya, mereka nggak asal bicara dong. Contohnya, kasus Ernest. Bukankah, adanya twit tersebut dilatar belakangi oleh sebuah artikel atau 'pengetahuan' yang telah ia dapatkan. Tentu ada bukti atau fakta yang melatarbelakangi adanya twit tersebut. Ya kan?

Saya sih herannya, mengapa netizen kita memandang seseorang hanya dari warna hitam dan putih. Maksudnya di sini hitam dan putih adalah terlalu garis keras melabeli seseorang sebagai seorang yang hitam dan putih (hitam ibarat keburukan dan putih diibaratkan kebaikan). Jadi netizen kita ini kalau sudah memandang orang baik, ya anggapan mereka baik terus. Sebaik dewa dan dewi yang jadi panutan. Sebaliknya, kalau yang dilabeli hitam ya hitam mulu. Stop labeling, guys!

Manusia itu hakikatnya bisa jadi putih, hitam, atau perpaduan keduanya. Manusia itu makhluk dinamis, nggak monoton dan stagnan. Jadi jangan begitu 'memutihkan' orang dan 'menghitamkan' orang. Hehe

Media sosial kan memang sebuah media yang kini nggak bisa jauh-jauh dari kehidupan kita. Hayo ngaku, siapa yang suka main sosmed?

Jadi menurutku beropini di media sosial adalah sebuah kewajaran. Jadi wajar-wajar aja main sosial medianya. Sekian dariku, sungguh kalau mau ngobrol panjang via chat aja. Terbuka untuk berdiskusi :)


Regards

V



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hi, guys!
Hari ini udah Jumat lagi, dan bahkan kurang dari satu jam lagi udah hari Sabtu. Sebelumnya aku mau minta maaf dulu for being late again, alias mepet nge-post-nya. 

Seperti yang kalian udah tahu, jadwal di Jumat minggu ini adalah Family and Friend. So, we (Vindi and I) decided to choose family as the topic. Ada banyak definisi keluarga bagiku. Keluarga adalah rumah bagiku, dimana aku selalu kembali ke mereka. Keluarga adalah kebahagiaan bagiku, dimana setiap momen kita selalu berusaha untuk membuat memori yang paling indah. Keluarga adalah supporter terbaikku. Keluarga adalah healing treatment bagiku meskipun terkadang keluarga juga yang membuat luka dihatiku.

Kalau harus jujur, selain mereka adalah sumber kebahagiaanku, tapi mereka juga pernah menyakitiku. Tidak ada yang sempurna bagiku, karena aku pun tidak sempurna untuk mereka. Meski kami tidak sempurna, keluargaku tetaplah hal paling berharga yang aku punya.

Bapak dan Ibu
Bapak dan Ibu adalah supporter terbaik untukku. Seperti hanya kebahagiaan yang selalu mereka berikan. Bapak dan Ibu bukanlah orang yang sering memarahi anaknya. Melalui percakapan kecil mereka biasanya memberi kami nasihat. Beliau tegas, disiplin, tapi terkadang aku yang belum bisa memahami mau Bapak dan Ibu. Dikala anak bungsunya ini belum sampai rumah, keduanya sering kali terjaga menunggu sampai aku pulang. Handphoneku tidak pernah berhenti bergetar hingga aku sampai di rumah. Ibu selalu saja tahu ketika aku masih begadang tidak jelas. Dan ibu pulalah yang selalu aku jadikan sandaran ketika aku sakit dan menangis. Karena aku selalu ingin dan selalu merasa tenang setiap kali aku ada dipelukkannya. Bapak dan Ibu selalu memberikan yang terbaik untukku, tapi aku masih saja belum bisa memberi yang terbaik untuk mereka. Aku hanya berharap bisa membuat Bapak dan Ibu bangga pada diriku dan selalu bahagia. Semoga aku bisa selalu berbakti kepada kalian berdua, Bapak dan Ibu.

Aku adalah anak keempat dari empat bersaudara. Dan ketiga kakakku adalah perempuan. Jelas, yang paling ganteng adalah Bapak diantara lima bidadarinya. Di keluargaku, jarang kami menunjukkan ekspresi-ekspresi kasih sayang dengan kata-kata yang jelas. Sering kali menunjukkan rasa sayang kami melalui tindakan, guyonan, teguran, dan kebiasaan-kebiasaan setiap hari kami. 

Sekian lama bisa liburan lengkap. 
Dari kiri ke kanan adalah Ibu, kakak pertama, aku, tanteku, kakak ketiga, kakak kedua, dan tiga krucil-krucil itu adalah keponakanku. Aku memilih foto ini karena di foto itu lengkap ada kami berempat.

Sifat kami berempat jelas berbeda. Tak jarang aku adu mulut, perang dengan kakak-kakakku. Saling teriak, saling lempar barang satu sama lain sering kami lakukan. Sebagai anak bungsu yang selalu kena imbas perintah kakak-kakakku, aku sudah terbiasa betul meski kadang aku merasa lelah. Seperti yang aku bilang tadi, keluargaku bukanlah tipe yang memberikan ekspresi kasih sayang secara terang-terangan. Dan kami berempat punya cara sendiri-sendiri untuk memgekspresikan rasa sayang dan perhatian kami pada masing-masing. 

Dibelakangku adalah kakak kedua dan suaminya.
Yups, dia suami kakak keduaku. Dari mereka pacaran juga dia sering menjemputku pulang sekolah sekalian dia mau mampir ke rumah. Satu hal yang sama dari aku, kakak keduaku, dan suaminya adalah kami sama-sama alumni MUHA. hahaa 

Mereka adalah rumah bagiku, dimana aku selalu akan kembali pada mereka. Mereka adalah zona paling nyamanku. Keluargaku. 💕💕
Regards,

F
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Selamat sore semua, 

Tema tulisan Jumat kali ini adalah Family and Friends. Tema yang sederhana tapi penuh dengan makna mendalam. Langsung saja yuk! Tak perlu bertele-tele lagi, mari menelusuri makna dari kata 'keluarga'.

foto: dokumen pribadi.


Sebelumnya, saya akan mengajak kamu ke postingan lawasku di blog. Kamu bisa klik postingannya di sini.
Saya akan mengenalkan satu per satu keluarga kecil saya. Keluarga kecil saya terdiri dari lima orang, namun terus bertambah hingga kini berjumlah tujuh orang. 

Saya akan mengenalkan dari sisi kiri ke kanan. 
Pertama ada papa, mama, adek, saya sendiri, kakak, dan suami kakak yang mengendong buah hati.

Bagi saya mereka adalah sosok yang memiliki peran dalam membentuk diri saya sekarang. Saya pernah bahagia memiliki mereka, namun saya tak memungkiri. Saya pernah terjatuh dan terpuruk karena mereka pula. Ada banyak faktor yang menyebabkan saya terpuruk. Saya nggak bisa cerita tapi saya bisa pastikan. Hal tersebut sangat melukai hati saya. 

Beberapa kali saya pernah berkonsultasi pada psikolog, jawabannya sama. Saya masalah saya seperti dua ton beras di pundak. Selalu membebani perjalanan hariku. Selalu nangis tiap dihadapkan pada seorang psikolog. I dont know why i did that. Its happened without my command. Meski begitu, saya sangat bersyukur bisa hidup bersama mereka. Mereka menempa hidupku bahwa hidup nggak mudah, harus berjuang dan terus semangat.

Papa adalah sosok yang cenderung diam, tapi selalu menjadi pahlawan ketika terjadi hal-hal yang tak terduga. Tiap pulang malam, papa selalu belum tidur untuk menunggu anaknya sampai rumah. Sederhana tapi ngena! :)

Mama. Bagiku mama adalah orang yang super! Pekerja keras, pantang menyerah, selalu menjadi alasanku untuk berjuang. Mama nggak kenal lelah, meski ia sendiri sebenarnya lelah. Saya belajar kata berjuang sebagai 'tulang punggung keluarga'. Mama hebat bisa menyekolahkan anaknya hingga ketiga anaknya menempuh pendidikan tinggi. Padahal banyak orang memandang bahwa mama enggak akan bisa menyekolahkan ketiga anaknya dengan keadaan saat itu. Tapi mama membuktikan mama bisa! :)

Adek. Sosok yang saya rindukan saat ini. Saya kangen jahil dan main bareng sama si kecil Cici. Kangen banget masa kecil, dulu sering banget jemput adek sekolah. Kalau beli sesuatu pasti ingat sama adek. Huhuhu sekarang udah gede ya :)

Kakak adalah pendorong diriku bisa menjadi diriku. Kakakku adalah pribadi yang menonjol dan cerdas. Sering mendapat juara saat sekolah hingga masuk sekolah favorit di Jogja. Mbak adalah salah satu motivasiku bahwa aku harus lebih baik dari mbak. Mbak bisa, kenapa saya enggak? 

Kemudian ada tambahan dua sosok dalam keluarga kecilku. Suami kakakku dan ponakanku. Semakin ceria dengan kehadiran si kecil Icha, sapaan ponakanku. Mukanya mirip banget sama mbakku. Bikin kangen sama mbak waktu kecil. Telah banyak momen berlalu, time flies fast!
Terima kasih keluarga kecilku untuk suka dan duka. Kalian adalah pembentuk diriku saat ini!

Regards, 

V
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Mengenai Saya

Barcode Projects
Lihat profil lengkapku

About me

Barcode Projects adalah sebuah proyek menulis yang diinisiasi oleh dua perempuan sok struggle dan tukang baper. Perempuan yang dimaksud adalah Ferizka Winda dan Vindiasari Putri.

Barcode Projects sendiri memiliki kepanjangan 'Barengan corat-coret'. Barcode Projects ini dijadikan wadah menulis dan berbagi cerita.

Labels

  • 1
  • 10
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • A
  • Barcodeprojects
  • Bebas
  • Cinta
  • Cowok
  • Evaluasi
  • F
  • Family
  • First Experience
  • Friend
  • Lagu
  • Review
  • Society
  • V

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2017 (95)
    • ▼  November (1)
      • #69, 70, 71, 72, 73, 74,75, 76, 77, 78
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (10)
    • ►  Agustus (14)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (19)
    • ►  April (10)
    • ►  Maret (15)
    • ►  Februari (9)

Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates